Antara Kapasitas Manusia dan Mesin

Blogs

Edisi 102, Jumat 19 Agustus 2016

Ada perbedaan mendasar antara penggunaan kata kapasitas dalam kapasitas sebuah mesin, dengan kapasitas dalam kapasitas diri.  Kapasitas mesin cenderung lebih kongkrit, terukur dan bisa dilihat efeknya ketika kita over capacity.

Kapasitas manusia?  Iya kita bisa lihat efek dari orang yang tidak tidur selama 2 hari, yang secara sederhana bisa dikatakan sebagai efek dari over capacity.Kita bisa lihat efek terhadap konsentrasinya, terhadap kemampuannya, terhadap emosinya, terhadap perilakunya.  Tetapi sama seperti ketika kita menghindari penggunaan kata produktivitas hanya sebatas kuantitas, kita sebaiknya juga menghindari penggunaan kata kapasitas hanya sebatas kuantitas saja.

Kapasitas kita pada umumnya, limitnya sulit kita tentukan, kita selalu bisa mencoba men-stretch dan men-strectch lagi.  Kapasitas kecepatan sebuah mobil dapat kita coba dengan menginjak gasnya sampai ‘mentok’ lalu kita bisa melihat laju kecepatannya di jalan yang kosong.  Tetapi kapasitas pengendaranya?  Apakah dia bisa mengendarai pada kecepatan 100, 150, 200 km/jam?  Sebagian tentu tergantung pada seberapa ramai situasi jalan yang ia hadapi.  Sebagian lagi tergantung pada skill-nya dan kondisinya pada saat itu.  Apakah dia memang sudah berlatih sampai ke level ketrampilan seorang pembalap dan apakah pada saat itu ia dalam kondisi fit, tidak sedang lelah.

Dengan contoh mobil ini saja terlihat, bahwa yang membatasi kapasitas kecepatan mobil itu bukan mobilnya, tetapi pengendaranya.  Seringkali kapasitas terpasang yang menunjukan kecepatan maksimal yang bisa ditempuh mobil, tidak digunakan oleh kebanyakan pengendara karena keterbatasan kemampuan pengendara (kapasitas) dan situasi jalanan yang ada (situasi).  Termasuk tentunya tingkat enerji yang tersedia pada pengendara itu sendiri.  Apakah ia tengah fit atau sedang mengalami kelelahan yang akan mengganggu konsentrasi dan kemampuan refleks-nya.

G. Suardhika

Trainer dari training Modern Time Management Jakarta