Antara time limit dan work limit

Blogs

Edisi 88, Jumat, 1 Juli 2016

Kita Cuma punya 3 hari untuk dapat menyelesaikan pekerjaan ini.  Proyek ini harus diselesaikan dalam 3 bulan.  Time limit, membatasi suatu pekerjaan dari segi waktu dan deadline adalah bahasa sehari-hari perusahaan.  Budget waktu dengan dead line-nya merupakan sarana untuk koordinasi antara departemen dan untuk memenangkan persaingan berbasis waktu dengan kompetitor.

Kecepatan melahirkan produk baru dan membawanya ke pasar.  Kecepatan membentuk tim sales dan melakukan penetrasi pasar.  Kecepatan mengerjakan suatu proyek sehingga menjadi competitive advantage dari proposal kita.  Semuanya itu memerlukan kemampuan mencari short cut dan bekerja dalam suatu time limit tertentu.

Lalu, work limit?  Sebagian orang mengatakan ini adalah bahasa seniman.  Pelukis pada umumnya tidak akan senang bila dikatakan harus menghasilkan 3 lukisan dalam 1 minggu, misalnya.  Mereka lebih senang bekerja dengan mood dan mengejar kualitas.

Tetapi apakah memang demikian, time limit adalah bahasa perusahaan dan work limit bahasa seniman?  Sebetulnya tidak juga.  Mungkin lebih tepat diformulasikan seperti ini, time limit adalah bahasa efisiensi dan kuantitas sedangkan work limit adalah bahasa efektivitas dan kualitas.  Dan keduanya bisa berlaku di perusahaan dan kerja seni.  Memahami kapan menggunakan keduanya adalah kunci dari produktivitas optimal.

Stephen Covey mengatakan bahwa ketika kita bekerja dengan orang, sebaiknya melakukan secara efektif bukan efisien.  Tidak bisa kita memberikan instruksi lalu memberikan time limit padahal kita tahu yang dihadapi adalah staf baru.  Biaya memperbaiki kesalahan karena instruksi terburu-buru akan jauh lebih besar.  Bukan seorang leader yang baik, ketika akan meninggalkan ruangan, lalu melihat stafnya datang dengan wajah mau menangis, ia mengatakan, ‘silakan curhat, 10 menit saja’.

Rumus umum MPD dalam hal ini, bisa jadi ini: bekerjalah seefisien mungkin (dengan time limit) pada pekerjaan operasional yang harus kita yang mengerjakannya, sehingga kita mempunyai cukup waktu untuk menerapkan work limit pada pekerjaan penting yang memerlukan kualitas super.

Bagaimanapun kualitas tetap memerlukan dead line dan kuantitas tetap memerlukan kualitas.

G. Suardhika

Trainer dari training Modern Time Management Jakarta