Apakah Anda benar Overload?

Blogs

Edisi 61, Selasa, 29 Maret 2016

Overload atau beban kerja yang berlebih dari kapasitas adalah suatu yang wajar dalam dunia kerja saat ini.  Kebanyakan perusahaan bekerja dengan prinsip minimax: minimal biaya, maksimal hasil, termasuk dari SDM nya.  Semangat itu sudah sebegitu biasa kita lihat sehingga akhirnya kriteria keberhasilan karyawan di sebagian perusahaan adalah seberapa jauh dia terlihat bekerja keras dan loyal kepada perusahaan.  Karenanya tidak heran bila karyawan lalu merasa harus selalu terlihat sibuk.

MPD-er, mereka yang berorientasi pada produktivitas diri, akan menghindari perangkap mindset tersebut dengan pertama-tama berusaha membedakan antara overload bohongan atau beneran.  Kesulitan untuk membedakan hal tersebut disebabkan karena kecenderungan kita untuk menggunakan alasan overload untuk ketidakmampuan kita menyelesaikan pekerjaan dengan baik.  Overload merupakan kambing hitam favorit kita.

Jadi bagaimana cara membedakan ‘kemurnian’ overload?  Kita bisa menelaahnya dari 4 hal berikut ini: output, sumber, benchmark, dan opini.  Dari output berarti kita melihat apakah output kerja saya menghasilkan impact yang kita inginkan atau tidak.  Bila kita merasa kita mengalami overload tetapi hasil kerja saya tidak begitu baik, maka ada kemungkinan kita mengalami overload karena ketidakmampuan kita dalam MPD (manajemen produktivitas diri) atau bisa juga kita mengalami overload yang sia-sia.

Analisis lain terhadap overload bisa kita lihat dari sumbernya.  Apa sumber dari banyaknya pekerjaan kita, apakah role kita yang memang cukup luas atau expectation lingkungan yang begitu besar atau karena ketidakmampuan kita mengelola semua hal tersebut.  Sehingga sebagian penyebab adalah cara kerja kita yang tidak efisien.

Cara lain adalah dengan melakukan benchmark dengan pemegang posisi sebelumnya ataupun pemegang posisi yang kurang lebih sama.  Apakah mereka juga mengalami overload?

Cara terakhir adalah dengan mengamati pendapat para pemengang kepentingan (stake holder) kita, apakah memang mereka merasa setuju dengan kita, bahwa beban kerja yang kita rasakan begitu besar.

Harapannya tentu, dengan berbagai analisis di atas, kita dapat lebih paham apakah kita secara objektif mengalami overload atau tidak.  Dengan pemahaman tersebut, diharapkan kita lebih bisa memilih respond yang tepat, apakah akan mempertajam prioritas kita, atau memang perlu menegosiasikan lingkup kerja kita ataupun expectacy atasan.  Agar produktivitas kerja bisa dioptimalkan.

G. Suardhika

Trainer dari Training Modern Time Management Jakarta