Bagaimana Cara Mengukur Produktivitas Diri?

Blogs

Edisi 43, Selasa, 26 Januari 2016

Kisah tiga Rudi yang dibahas di artikel sebelumnya, menunjukan adanya 3 dimensi dalam mengukur produktivitas diri.  Pengkuruan produktivitas diri pertama kali kita bahas di edisi 7.  Namun kompleksitas pemahaman mengenai produktivitas diri perlu membawa kita pada perspektif yang lain.  Kata ‘pengukuran’ digunakan di sini tidak dalam arti metode pengukuran yang obyektif, detail dan tajam.  Tetapi sekedar sebuah diskusi tentang apa sebetulnya yang diukur ketika kita membicarakan produktivitas diri.

Output baru merupakan dimensi pertama dari pengukuran produktivitas diri.  Seorang yang bekerja sebagai staf produksi pada umumnya mempunyai kriteria pengukuran output yang jelas.  Karenanya dia bisa terus meningkatkan produktivitas kerja-nya, sampai pada suatu saat menjadi yang terbaik.  Misalnya dia mempertahankan kemampuan tersebut sampai masa pensiunnya.  Menurut Anda, apakah dia sudah mencapai produktivitas optimal?  Bisa jadi iya kalau kita mendefinisikan sebagai produktivitas kerja di kelompoknya.  Tetapi kalau kita melihat potensi pada karyawan tersebut namun ia tidak bersedia mengembangkan dirinya?

Disinilah pengukuran produktivitas diri memasukan potensi dan kapasitas diri, tidak sekedar kapasitas kerja.  Inilah dimensi kedua yang perlu dimasukan dalam produktivitas diri.

Kemudian, misalnya kalau karyawan tersebut paham akan potensinya sehingga akhirnya dia bisa mengembangkan dirinya dan mengakhiri karirnya sebagai kepala pabrik.  Berarti dia sudah mencapai produktivitas optimal dari segi kapasitasnya.  Bukankah begitu?

Tepat.  Tetapi produktivitas diri menuntut untuk dimasukannya satu dimensi lagi ke dalamnya, yaitu alignment antara purpose dan aktivitas sehari-hari.  Kalau orang itu ketika pensiun mengalam post power syndrom dan merasakan kekecewaan di hari tua-nya, maka bisa jadi dia telah gagal melakukan alignment antara apa yang penting bagi hidupnya dengan apa yang selama ini ia lakukan.  Ia tidak menjaga pembagian proporsi waktu dan enerji yang tepat untuk berbagai dimensi dalam hidupnya.  Sekali lagi bisa dibilang ia berhasil mencapai produktivitas kerja, tetapi ia belum berhasil mencapai produktivitas diri.

Dengan demikian dimensi produktivitas diri, tidak hanya terkait dengan optimasi output, tetapi juga optimasi kapasitas dan alignment tujuan.  Seseorang bisa saja ‘beruntung’ berada di perusahaan yang bagus, dengan keberhasilannya untuk memenuhi berbagai tantangan yang ada, ia bisa mencapai karir yang gemilang.  Satu-satunya pertanyaan tersisa tentunya adalah apakah ini benar yang ia inginkan?  Apakah ini align dengan apa yang penting bagi hidupnya?  Bila iya, maka dia telah mencapai semua dimensi produktivitas dirinya.

Namun, bila pada saat di puncak karirnya, ia merasa telah menjalankan pekerjaan yang kurang ia minati (tetapi ia mampu menjalankannya dengan sangat baik), dan tidak memenuhi purpose hidupnya sehingga menjalankan kehidupan yang kurang membahagiakan, maka sulit untuk kita mengatakan bahwa ia telah mencapai produktivitas diri yang optimal.

G. Suardhika

Trainer dari Training Modern Time Management Jakarta