Bayangkan Kehidupan tanpa Jam

Blogs

Edisi 122, Selasa 6 Desember 2016

Tidak ada alarm yang berbunyi di pagi hari.  Mau janjian sama teman?  Nanti aja ketika matahari sudah tepat di atas kepala atau setelah magrib.  Di waktu dimana jam juga tidak ada, berarti tidak ada telepon, sehingga kita tidak bisa mengkonfirmasi janji kita.

Hidup anda perlu lebih produktif?  Gimana hitungannya kalau jam kerja juga nggak ada.  Inilah zaman dimana manusia bekerja dengan cara berkebun atau menggarap sawah.  Bekerja?  Mungkin juga nggak bisa dibilang begitu karena setiap hari belum tentu Anda perlu ke tempat kerja Anda (baca: kebun atau sawah).  Setiap hari dimulai dengan santai tidak ada target yang jelas, yang ada hanyalah menjalani kehidupan seperti biasa, bercengkrama.  Jelas, pada saat itu blog  produktivitas diri yang saya tulis tiap minggu ini, tidak perlu.  Dia bukan ilmu yang esensial untuk hidup dan bukan ilmu yang diperlukan untuk survival pula.

Kehidupan itu sebetulnya tidak terlalu jauh di belakang kita.  Kurang lebih dialami oleh buyut kita.  Jam ditemukan sekitar 175 tahun yang lalu. (Chris Bailey , hal 89).  Tidak terlalu jauh bukan.

Tidak ada stres, tidak ada dokter, tidak perlu beli aqua ke warung karena air sungai bisa jadi cukup bersih untuk diminum.  Tidak perlu beli bensin untuk kendaraan, karena kita hanya berjalan kaki dan bersepeda saja.  Tidak perlu olah raga.  Tidak perlu ada gerakan bike to work, karena memang hanya itulah yang ada bike to work atau walk to work.

Membayangkan itu semua membuat kita bertanya, apa arti modern yang telah dicapai dalam 2 abad terakhir ini, sebetulnya?  Apa esensi dari waktu?  Apa esensi dari produktivitas diri?

Apakah bisa kita sebut buyut kita itu tidak produktif?  Karena tidak terlihat tergesa, hanya santai saja di rumah atau di tempat ngopi.  Bisa jadi iya mereka tidak produktif.  Tetapi nanti dulu, apa itu produktif?  Apakah kalau orang bergesa untuk menimbulkan kerusakan itu bisa disebut produktif?  Apakah kalau orang stres untuk suatu yang tidak penting, bisa disebut produktif?  Atau, apakah ini produktif:  orang sibuk tapi tidak bahagia?  Atau ini: orang sibuk, tetapi  tetap saja tidak bisa memenuhi kebutuhan basic-nya, malah kehilangan waktu berharga untuk keluarga dan dirinya sendiri?

Kesimpulan sementara dari tulisan singkat ini cuma ini: susah ternyata menjadi filsuf.  Karena kita mengajukan banyak pertanyaan penting yang sulit untuk mendapatkan jawabannya.  Tetapi perlu sekali-sekali untuk kita menjadi filsuf, dan mengirimkan ke bawah sadar pertanyaan tersebut, biar menjadi PR dari otak kita.  Yakinlah suatu saat akan datang ‘email’ dari bawah sadar kita, lalu kita tinggal berkata ‘aha’.

G. Suardhika

Trainer dari training Modern Time Management Jakarta