Belum bosan dengan new year’s resolution?

Blogs

Edisi 35, Selasa, 29 Desember 2015

New year fever biasanya ditandai dengan keceriaan mengakhiri tahun dan mengawali tahun baru.  Salah satu bagian dari fever tersebut, tentunya adalah new year’s resolution.  Membayangkan beberapa hal yang paling penting yang ingin dicapai dan berusaha meng-komit-kan diri untuk mencapainya.  Mulai dari menurunkan berat badan, lebih ranjin beribadah, sekolah lagi, sampai ke mencapai pendapatan sebesar X.

Sayangnya, sebagian besar resolusi itu tidak berhasil diwujudkan.  Hanya berhenti sampai kesenangan membayangkan perbaikan diri yang bisa kita capai.  Seperti sebuah demam yang hanya berlangsung sesaat saja.  Kenyataan ini, toh tidak membuat kapok untuk kita mengulangi lagi siklus yang sama di tahun depan.  Lalu apa yang salah dari gambaran ini?

Ada 3 macam new year’s resolution.  Yang pertama adalah mem-verbal-kan mimpi kita.  Yang kedua adalah mengubah kebiasaan, yang berarti fokusnya pada proses.  Yang ketiga adalah sebuah resolusi yang mempunyai target yang jelas kapan ingin dicapai di tahun tersebut.  Ini berarti resolusi yang berorientasi output.

Pada resolusi yang mem-verbal-kan mimpi dan me-rebalance hidup, kita me-recommit apa yang ingin kita capai dalam hidup kita.  Dia menjadi ‘penyadar’ akan prioritas hidup, seperti: saya harus kembali rajin beribadah atau saya perlu mengurangi waktu hang out yang nggak jelas, atau saya perlu mulai memikirkan untuk kuliah lagi.

Resolusi jenis ini, sebaiknya tidak dinilai terlalu serius.  Karena kalau kita sekedar ikut dengan fever tersebut, lalu mencoba men-transform mimpi ke dalam action plan, maka khawatirnya kita akan putus asa dan akhirnya menyerah ketika menemukan banyak hambatan.

Jenis resolusi kedua fokus pada proses, yaitu memperbaiki kebiasaan kita.  Yang terjadi bisa berupa peningkatan atau pengurangan proporsi waktu dan enerji dari apa yang penting buat kita.  Ingin meningkatkan hubungan dengan keluarga atau ingin lebih taat beribadah, maka yang penting adalah meningkatkan waktu dan enerji pada hal-hal tersebut.  Atau memperbaiki kebiasaan, seperti ingin mulai berolah raga secara rutin atau mengurangi marah-marah yang tidak jelas.

Lalu bagaimana kalau yang kita pilih adalah resolusi jenis ketiga, sebuah tujuan yang memang ingin dijadikan action plan?  Kalau ini yang kita pilih, yang bukan sekedar mimpi tapi perubahan riil yang ingin dicapai tahun tersebut, maka pertama kita perlu paham akan gap yang ada.  Apa kebiasaan yang ada saat ini dan untuk mencapai goal tersebut maka kebiasaan apa yang perlu ada.

Setelah itu, kita perlu memahami sumber-sumber daya yang ada pada kita saat ini, serta metode yang perlu ditempuh untuk bisa sampai kesana.  Bila resolusi kita adalah sekolah lagi.  Apakah kita sudah melakukan survey sekolah yang ingin kita ambil?  Kenapa kita memilih pendidikan tersebut?  Apa relevansinya dengan rencana karir kita?  Apakah kita punya rencana karir yang solid?  Apakah kita tahu sumber-sumber daya yang perlu kita komitkan untuk itu atau biaya ekonomi, enerji dan waktu dan efeknya terhadap area lain dalam hidup kita?

Bila resolusi kita adalah pindah kerja.  Apakah kita mempunyai alasan yang tepat untuk itu?  Apa yang kita cari dari pekerjaan yang baru?  Apakah kita menunggu sampai mendapat pekerjaan yang nyaman baru pindah atau pokoknya tahun ini berhenti dulu?  Apakah kita punya keleluasaan untuk mencari pekerjaan yang baru?  Kalau setelah resolusi tersebut, menyediakan waktu untuk mencari saja atau memperjelas niat saja tidak kita lakukan, lebih baik tidak melihat resolusi itu sebagai target, dan sekedar memperlakukannya seperti sebuah angan-angan saja, mem-verbal-kan mimpi kita.

Kalau boleh saya sarankan satu resolusi yang bisa Anda masukan di 2016: membuat diri Anda lebih produktif.  Baik dalam arti produktivitas kerja ataupun produktivitas diri Anda.  Ini adalah sebuah resolusi jenis kedua.  Bagaimana caranya?  Salah satunya, mendaftar newsletter di blog ini, membaca setiap artikelnya yang terbit setiap selasa dan jum’at dan mengupayakan perbaikan pemahaman dan kebiasaan dalam produktivitas diri.  Begitulah pesan sponsor dari saya….

Let’s improve our productivity in 2016.  Amin

G. Suardhika

Trainer dari Training Modern Time Management Jakarta