‘Berkencan’ dengan Pekerjaan

Blogs

Edisi 53, Selasa, 1 Maret 2016

Kalau misalnya daftar pekerjaan Anda bisa bersalin rupa?  Ia akan berubah jadi apa?  Pangeran/Putri yang menawan atau si buruk rupa?  Bayangkan kalau Anda menemukan bahwa ternyata 20 pending item Anda semuanya si buruk rupa, bertapa beratnya hari Anda bila harus berinteraksi dengan mereka seharian.

Salah satu cara untuk menjadi produktif di tempat kerja adalah kemampuan untuk bisa sesering mungkin berkencan dengan pekerjaan kita.  Kita memang tidak dapat menghindari bahwa ada si buruk rupa di dalam daftar pekerjaan, tetapi menunda melakukan pekerjaan dan memilih menatap-natap saja si buruk rupa tidak akan membuat terselesaikannya tugas tersebut.  Tidak heran bila Brian Tracy kemudian terkenal dengan ungkapannya, ‘just eat that ugly frog’.  Katak disini tentunya mengacu pada pekerjaan yang tidak disukai atau sulit bagi kita.

Bila Anda berhasil mendisain pekerjaan, karir dan hidup Anda sehingga lebih banyak Si Menawan yang Anda temui setiap harinya, maka Anda menghadapi tugas yang lebih ringan dari rekan Anda yang harus bergaul dengan lebih banyak buruk rupa.  Tapi toh, tetap ada beberapa buruk rupa yang perlu anda kencani.  Mengencani si buruk rupa berarti Anda harus menemukan cara untuk mencintainya.

Saya sepakat dengan Brian Tracy, menimbang-nimbang suatu pekerjaan yang sulit dan tidak kita sukai hanya akan menimbulkan rasa frustasi saja.  Lebih baik menjadwalkan dan meng-commit-kan setengah jam saja dari waktu Anda untuk mulai mengerjakannya, dan menyiapkan reward bila Anda bisa menyelesaikan satu tahap dari pekerjaan tersebut.

Sambil Anda mulai mengerjakan cobalah cari cara untuk bisa mencintai si buruk rupa.  Bisa jadi perspektif Anda yang diubah, mungkin kalau dilihat dari samping dia tidak seburuk yang  Anda bayangkan.  Atau dari atas?  Atau Anda mulai berinteraksi dengannya, ternyata ia tidak se-membosankan itu.

Ini berarti menemukan tantangan yang menarik dari pekerjaan Anda atau menemukan bagian yang mengasyikan dari pekerjaan Anda atau menemukan cara dan saat mengerjakan yang paling mengasyikan buat Anda (sepanjang bukan sekedar alasan untuk menunda).  Dengan memasukan setting ke dalamnya, bekerja di kantin, sambil menikmati makanan ringan atau minuman favorit Anda.  Tentunya dengan porsi yang terkontrol.

Bila kita tidak berhasil juga mencintai aktivitas tersebut, maka kita perlu mencari cara untuk mendelegasikannya.  Atau mencari cara untuk mengerjakannya seefisien mungkin.

Yang jelas, tanpa menemukan cara untuk bisa mencintai pekerjaan tersebut.  Maka si buruk rupa makin lama kita lihat akan makin buruk saja.  Bisa-bisa dia berubah menjadi ratu sihir yang membuat kita membenci pekerjaan kita, sehingga akhirnya organisasi tidak bisa mendapatkan produktivitas karyawan yang optimal.

G. Suardhika

Trainer dari Training Modern Time Management Jakarta