Bos kusebal, Bos-ku malang

Blogs

Edisi 77, Selasa, 24 Mei 2016

Dari satu pelatihan ke pelatihan lain, Atasan selalu menjadi ranking pertama complaint peserta.  Sudah tentu hal tersebut gabungan antara situasi obyektif dan subyektif.  Antara memang Atasan yang payah atau bawahan yang pemalas.  Namun, jelas bahwa Atasan mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam situasi dan semangat kerja seseorang.  Mengapa demikian?

Pertama, tentunya besarnya power yang dimiliki seorang Atasan terhadap subordinate-nya.  Dalam dunia kerja sekarang, hampir-hampir tidak ada kontrol etika terhadap bagaimana sebaiknya pola relasi yang profesional antara atasan dan bawahan.  Batasan yang ada bisa jadi ini: sepanjang apa yang dilakukan tidak memberikan cedera fisik dan  apa yang dilakukan ditujukan untuk kepentingan Perusahaan, dalam arti yang bisa diterima oleh Manajemen, maka apapun sah dilakukan.  Ketika diungkapkan dalam kalimat seperti itu, memang agak menyeramkan, tetapi begitulah adanya.

Sudah sering saya dengar staf yang frustasi dengan inkonsistensi Atasan-nya, kadang mengontrol, kadang tidak.  Kadang marah terhadap hal tertentu.  Pada saat lain, diabaikan atau bahkan tertawa.  Kadang mendukung, kadang membiarkan.  Kadang datang dengan mood ceria, kadang super BT.  Tidak heran bahwa tingkat ‘kewarasan’ Atasan bisa menjadi salah satu indikator dari tingkat ‘kewarasan’ staf nya.

Saya ingat dalam suatu pelatihan Time Management, seorang peserta bercerita bertapa dia sampai kehilangan semangat bekerja ketika bertemu dengan Atasan seperti itu.

Kedua, Manajemen masih bergerak dengan pendekatan komando.  Sehingga seorang Atasan seolah bertanggung jawab terhadap semua kinerja unitnya, tidak hanya kinerja dirinya, tetapi juga kinerja dari seluruh stafnya.  Bukankah memang seharusnya begitu?  Mungkin sebagian dari Anda berpikir demikian.  Menurut saya, tidak juga.

Tidak, dalam arti, bila sistem dalam organisasi sudah berjalan dengan baik, maka setiap posisi mempunyai job desc, target, wewenang dan tanggung jawab nya masing-masing.  Atasan tentunya ikut bertanggung jawab terhadap pencapaian staf nya.  Tetapi tanggung jawab-nya sepanjang peran supervisinya.  Bukan 100 persen pencapaian staf nya.  Karena bisa jadi Atasan tidak mempunyai wewenang dan kemampuan penuh untuk mengontrol pekerjaan staf nya sampai ke detailnya.

Alasan lainnya dari besarnya pengaruh Atasan adalah: Manajemen masih melihat keberhasilan seorang pemimpin dari segi pencapaian target saja.  Kemampuan si pemimpin untuk mengelola dan mengembangkan tim kurang menjadi indikator pemimpin yang baik.  Sehingga tidak heran pemimpin juga sangat berorientasi target dan……hanya itu, target dan target lagi.  Staf dilihat sebagai alat saja untuk membuat prestasi sang pemimpin baik di depan Manajemen.

Sebal tentunya bila menghadapi situasi seperti ini dan bertemu Bos seperti ini.  Lalu gimana dong?  Mungkin bisa dicoba resep ini, ubah perasaan Anda dari sebal ke kasihan.  Bos seperti ini adalah Bos yang tidak profesional.  Dia gagal menjalankan etika profesional.  Dia tidak berhasil mendorong semangat profesionalisme di perusahaan.  Dia telah menyediakan diri untuk sekedar menjadi alat bagi organisasi.

Bila Anda bisa lebih baik dari Bos tersebut.  Bila Anda bisa menjadi Bos yang profesional yang tahu memberdayakan tim dan memperlakukan tim dengan respect sehingga tim dapat diberdayakan dengan optimal, maka karir Anda akan jauh lebih baik dari dia.  Walaupun bisa jadi tidak  di perusahaan tersebut.  Kasihanilah Bos tersebut.  Dia Bos yang malang.  Sehingga perasaan Anda berubah dari sebal ke kasihan.  Bos kusebal, Bos ku, malang.

G. Suardhika

Trainer dari Training Modern Time Management Jakarta