Comfort zone dan Produktivitas Diri (3): Grit

Comment

Blogs

Edisi 150, Selasa 16 Mei 2017

Berada di comfort zone positif (silakan lihat gambar di edisi sebelumnya: http://produktivitasdiri.co.id/comfort-zone-dan-produktivitas-diri-pengantar/) sebetulnya sudah menunjukan sebuah pencapaian positif.  Ada pencapaian dan kesuksesan yang bisa dinikmati.  Setiap pencapaian tersebut tentunya menimbulkan rasa nyaman dan perasaan bahwa kita sudah on the right track Pertanyaan pentingnya sebetulnya ini: apa kita sudah optimal?

Optimasi dalam produktivitas diri akan ditekankan pada keseimbangan hidup.  Optimasi dalam kinerja?  Ditekankan pada optimal performance yang salah satunya ditunjukan dengan grit dan pengembangan kemampuan melalui deliberate practice.

Baik Angela Duckworth ataupun Anders Erickson, keduanya memfokuskan penelitannya pada studi tentang kinerja optimal yang dicapai seseorang dalam kehidupannya.  Namun Angela Dukworth menggunakan istilah Grit sebagai faktor penentunya, sedangkan Erickson menekankan pada konsep latihan yang ia sebut sebagai deliberate practice sebagai pembeda antara mereka yang berhasil dan sangat berhasil.

Erickson dalam penelitiannya pada para pemain violin menemukan bahwa mereka yang mempunyai talent memang lebih cepat menguasai skill yang dibutuhkan di awal, namun kemudian mereka akan cenderung merasa nyaman dengan pencapaiannya sehingga di tahap selanjutnya mereka tidak terlatih untuk ‘bekerja keras’ dan mudah menyerah.

Sebaliknya mereka yang mengandalkan kerja keras sejak dari awal, akan dapat terus melatih grit nya sehingga mereka bisa menikmati latihan yang benar dan umumnya berat (deliberate practice) sehingga akhirnya mereka mencapai tahap expert: menjadi violin kenamaan.  The top 5 percent of the world.

Berada di level stretching optimal dalam MPD tentunya berarti keberhasilan mencapai level itu dengan tetap menjaga keseimbangan hidupnya.  Sebagian orang memang berhenti di comfort zone positif mencapai kemajuan dengan percepatan pengembangan diri yang cukup baik.  Tetapi sebagian kecil yang lain berusaha terus meningkatkan percepatannya pengembangan dirinya.  Kelompok kedua ini memilih menikmati kehidupan yang berat untuk mencapai purpose hidupnya daripada kehidupan yang berorientasi pleasure comfort zone.

Mereka berhasil mengembangkan grit: kemampuan untuk bertahan dan mengembangkan passion-nya untuk sebuah tujuan jangka panjang.

G. Suardhika

Trainer dari training Modern Time Management Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *