DA: antara Alat dan Tujuan

Comment

Blogs

Edisi 188, 19 Desember 2017

Sebagian orang berpegang pada DA dan jadwal harian seperti sebuah appointment yang sakral.  Maka inilah yang kemudian terjadi.

Bos yang kesal ketika bawahannya datang menceritakan masalah di operasional.  Padahal permasalahan itu menyebabkan proses produksi tidak berjalan optimal.  Bos lalu ngomel-ngomel, mencari siapa yang salah, sehingga penyelesaian masalah berjalan sangat lambat.

Orang tua yang hadir ke pertandingan anaknya pada weekend, sambil sebentar-sebentar melihat jam, karena hari ini dia membudgetkan 3 jam untuk menyelesaikan laporan yang harus diserahkan ke Bosnya minggu depan.  Pertandingan ini sudah terlambat mulainya, berlangsung lebih lama dari biasanya lagi….. Sulit untuk menyembunyikan kegelisahannya pada saat ia tengah menyaksikan anaknya beraksi.

Staf itu masuk ke ruangan Bosnya dengan mata merah.  Baru saja ia bercerita sebentar, tangisnya sudah mulai terdengar.  Supervisornya hanya tertegun melihat dia.  Dalam hatinya ia hanya bisa berkata, ‘enyahlah, ada 100 hal lebih penting yang harus aku selesaikan daripada melihat kau menangis’.  Maka proses konseling itu pun berlangsung dengan sangat efisien.  10 menit kemudian, staf tersebut keluar dari ruangan supervisornya dengan tangis yang semakin keras.

Permasalahan dalam kasus-kasus di atas terjadi ketika kita membiarkan alat produktivitas diri yang mengendalikan kita, bukan kita mengendalikan mereka.  DA dan penjadwalan adalah alat produktivitas diri yang dibuat untuk kita bisa mengoptimalkan penggunaan waktu kita.  Dengan kata lain, tujuannya bukan alatnya itu sendiri.

Pertanyaannya tentunya bagaimana menyeimbangkan antara menikmati proses yang ada dengan memprioritaskan eksekusi DA.  Bila pada saat tersebut yang optimal adalah mengabaikan DA kita, mengabaikan budget waktu kita karena ada tujuan lebih penting, maka diperlukan keluwesan dan kebijakan kita untuk bisa menyambut moment tersebut dan terlibat secara penuh, walaupun itu akan mengacaukan jadwal kita.

Untuk mencapai keseimbangan tersebut tampaknya perlu pemahaman yang menyeluruh akan prioritas aktivitas dan kemampuan mengelola aktivitas urgent kita sehingga tekanan dead line tidak terlalu besar.

G. Suardhika

Trainer dari training Modern Time Management Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *