Deliberate Practice (1): Pengantar

Comment

Blogs

Edisi 154, Selasa 6 Juni 2017

Bayangkan seorang pria yang mendekati seorang wanita yang ditaksirnya.  Ia lalu menjabarkan kesimpulan teorinya yang mengatakan dengan pengasuhan yang tepat, seorang anak bisa diubah menjadi jenius dalam bidang apapun. Lalu sang pria bukannya mencoba merayu wanita tersebut dengan kelebihan dia, tetapi malah, seperti mencari seorang partner peneliti, menawarkan pada wanita tersebut untuk bersama mencoba kesimpulan itu kepada anak-anak mereka?

Ini tentu tidak menarik untuk diangkat menjadi novel.  Tetapi ini terjadi pada tahun 60an.  Tokoh pria kita terebut adalah seorang psikolog.  Si wanita, guru.  Sang pria berasal dari Hungari, bernama Laszlo Polgar dan sang wanita berasal dari Ukrain, bernama Klara.

Mereka kemudian memilih bidang yang akan ditekuni oleh sang anak, sebagai bagian dari experimen mereka.  Setelah mempertimbangkan berbagai bidang yang mungkin digeluti, bahasa, matematika dan seterusnya, akhirnya pilihan mereka jatuh pada catur.  Hasilnya?  Tiga orang grandmaster wanita, yang pada saat jaya-jayanya, tidak hanya menyebabkan wanita lain gentar tetapi juga para pria grandmaster.  Prestasi paling tinggi diantara para Polgar bersaudara ini diraih Judit, si bungsu, pernah mencapai ranking no 8 dunia diantara pecatur pria dan wanita.  Dia menjadi pecatur terbaik wanita di dunia selama 25 tahun (ya…25 tahun).

Indonesia juga tidak asing dengan hal ini, seperti adanya keluarga Nasution yang populer di cabang renang hasil gemblengan ayahnya Radja Nasution atau Said Kelana seorang seniman pensiunan tentara yang cukup keras mendidik anaknya dalam bermusik, melalui band Kids Brothers.

Kisah mengenai Polgar bersaudara menjadi pembuka dari chapter 7 buku Peak dari Anders Ericsson.  Kisah itu rupanya bisa mewakili salah satu premis utama buku ini bahwa dengan deliberate practice, seorang bisa mencapai level expert dalam bidangnya.

Deliberate practice adalah sebuah metode latihan yang mempunyai ciri purposefull (mempunyai tujuan tertentu) dalam setiap latihannya, sehingga peserta latih mengetahui persis apa skill yang menjadi fokus pengembangannya.

Bila Duckworth menemukan satu aspek, Grit,  yang bisa membedakan antara yang berhasil dan tidak berhasil mencapai kinerja tertinggi, maka Ericsson yang lebih dulu mempelajari hal ini, menemukan pembeda antara mereka yang berhasil mencapai expert dan bukan expert dari jenis pelatihan yang perlu dilakukan.

Bila grit terkait dengan sikap yang ditunjukan seorang untuk mencapai prestasi tertinggi, maka deliberate practice terkait dengan metode.

G. Suardhika

Trainer dari training Modern Time Management Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *