Doer, Executor & Performer (3): Peran Organisasi

Blogs

Edisi 116, Selasa, 1 November 2016

Kebanyakan organisasi masih dengan asumsi bahwa mereka tidak butuh banyak executor, apalagi performer.  Pada level bawah, pelaksana, biarkan saja diisi oleh para doer.  Menunggu perintah dan mengerjakan perintah.  Membuka banyak inisiatif di level tersebut, hanya akan menyulitkan saja.  Tapi kita tahu, bila kita menjadi supervisor mereka, bertapa menyebalkannya memimpin orang yang bisanya Cuma menunggu perintah saja, para doer tersebut.

Banyak organisasi saat ini, terutama yang menyadari pentingnya kreativitas dan komitmen tim nya untuk dapat bertahan, memenangkan persaingan dan tumbuh dengan sehat, mulai menyadari pentingnya mengembangkan executor dan performer di dalam organisasi.  Sayangnya organisasi tidak menyadari bahwa untuk mencapai itu memerlukan budaya kerja yang sesuai:

  • Menghargai inisiatif, bersedia menanggung resiko terhadap honest mistake yang timbul karena inisiatif dan usaha.
  • Menghargai perbedaan dan mengelola dinamika perbedaan yang ada.
  • Menghargai kinerja di atas senioritas.
  • Mengupayakan sebuah disain pekerjaan/jabatan yang menantang dan menarik
  • Memperhatikan minat karyawan dan membantu karyawan untuk menyalurkan minat dan passionnya di dalam kerjanya seoptimal mungkin. Termasuk, bila memungkinkan, mencarikan pekerjaan yang sesuai dalam hal itu.
  • Menghargai kepentingan individu karyawan dan mendorong fleksibilitas waktu seoptimal mungkin.

Mengelola organisasi untuk dapat menghasilkan budaya dimana performer tumbuh subur, jelas bukan pekerjaan yang mudah.  Paling tidak ada 3 ciri berikut yang membuat pembentukan performer sulit:

  • Fleksibilitas: Performer menunjukan fleksibilitas berpikir ketika mereka me-reorientasi tujuannya untuk memastikan tetap diperolehnya impact yang optimal
  • Profesionalisme: ketika mereka tidak sekedar menjadi yes man, tetapi melakukan yang terbaik buat organisasi, walaupun itu berarti berbeda pendapat dengan atasannya.
  • Menunjukan standard moral yang tinggi: karena jelas dan jernih nya value yang mereka bangun terkait reliogousitas, spiritualisme, kemanusiaan dan penghargaan terhadap alam.

G. Suardhika

Trainer dari training Modern Time Management Jakarta