Don’t kill your time, live it

Blogs

Edisi 84, Jumat, 17 Juni 2016

Bahasa yang baik mempunyai perbendaharaan kata yang sangat tepat dan dalam maknanya.  Dalam bahasa inggris, bisa jadi ini salah satunya.  Membunuh waktu?  Tentunya waktu tidak bisa dibunuh dalam arti dihentikan karena ia akan terus berdetak, bahkan setelah kita sendiri tiada.

Nature dari waktu yang selalu berjalan baik kita sadar atau tidak, kita isi atau tidak, kita ikuti atau tidak, kita cuekin atau marah-i, menunjukan waktu mempunyai ‘nyawa’-nya sendiri sehingga orang kadang ingin ‘membunuh’ waktu.  Untuk apa?  Agar ia tidak merasa ‘ditinggal’ oleh waktu.

Waktu yang berjalan tanpa kita isi dengan baik akan terasa sebagai membosankan.  Sebagian orang kemudian menemukan kreativitasnya dalam ‘membunuh waktu’ ini.  Para ‘pembunuh waktu’ melatih dirinya dan menemukan keahliannya dari waktu ke waktu karena latihan berjam-jam dan bertahun-tahun.

Di era modern, alat yang paling baik untuk membunuh waktu adalah…., guess what?  Yap you are right: smartphone.  Kita bisa chatting nggak jelas atau main games nggak ketentuan dengan variasi puluhan grup WA ataupun puluhan games ataupun juga berbagai hal yang ingin di-browsing.  Sehingga tanpa terasa satu hari telah berlalu dan we are wonder, where all the time flies?

Namun, paling tidak killing time di atas lebih bermanfaat daripada jenis berikutnya: belanja barang yang tidak begitu kita perlukan, online ataupunn tidak.  Ataupun terlalu banyak makan untuk menyenangkan diri daripada manfaat dirinya.  Jenis killing time ini, mempunyai efek double negative: menyia-nyiakan waktu dan uang kita.

Bagaimana cara menghindari kebiasaan ini?  Pertama, tentu menyadari bertapa waktu adalah sesuatu hal yang sangat berharga.  Kedua, menyiapkan skenario ‘living time’, sebagai lawan dari ‘killing time’.  Ada beberapa skenario yang bisa digunakan.

Pertama.  Membuat penjadwalan waktu kita dengan sangat berhati-hati.  Sekali keluar rumah, selesaikan banyak urusan, kalau tidak ya mendingan di rumah.  Di kota besar, traveling time itu menghabiskan porsi waktu yang sanga besar.  Ini bisa disebut pendekatan chunking, mengelompokan beberapa aktivitas terkait.

Kedua.  Mempersiapkan aktivitas bermanfaat dari idle time kita.  Kalau sedang menunggu atau sedang dalam perjalanan, maka siap dengan buku yang bermanfaat ataupun mengisi smartphone Anda dengan MP4 atau MP3 yang bermanfaat.  Sehingga smartphone Anda tidak menjadi sarana ‘killing time’ tapi ‘living time’.

Tentunya bukan berarti kita tidak bisa meng-entertain diri kita dengan game ataupun chting ataupun mendengarkan lagu di smartphone kita…  isuenya adalah menemukan porsi yang optimize bagi diri kita.  Dan setiap orang bisa berbeda dalam hal ini.

G. Suardhika

Trainer dari training Modern Time Management Jakarta