Ego dan faktor Blind Spot

Comment

Blogs

Edisi 166, Selasa 15 Agustus 2017

Ego yang sehat akan mendorong efektivitias proses internal kita.  Seringkali ketika seseorang merasa perlu membela egonya, itu dilakukan dari sense of ego yang tidak sehat.  Bila seorang mengembangkan ego yang kurang sehat maka ia cenderung untuk meletakan keberhargaan dirinya pada hal-hal yang sebetulnya jauh dari esensi dirinya.

Perbedaan pendapat dalam suatu rapat, misalnya, ada orang yang bisa melihat kebenaran pada pendapat orang lain, tetapi ada juga yang selalu menganggap perbedaan pendapat dengannya sebagai serangan terhadap ego nya.

Ada orang yang tersinggung ketika dikatakan penampilannya kuno, sementara yang lain bisa tertawa ringan saja.

Ego yang tidak sehat bisa diibaratkan sebagai area self yang terlalu luas di luar esensi self-nya (perkataan, perbuatan, barang yang ia miliki) di luarnya.  Kondisi ini justru disebabkan karena ia tidak nyaman dengan dirinya, tidak yakin dengan kemampuan dirinya, merasa keberhargaanya diukur dengan berbagai hal di luar dirinya.  Kurang percaya diri.

Seorang pemimpin yang sulit untuk menerima masukan dari tim nya ataupun cenderung untuk otoriter, bisa jadi karena ia menutupi kurangnya kepercayaan dirinya.  Ego yang kurang sehat biasanya dibangun di atas logika berikut: saya sebetulnya kurang mampu berada di posisi ini, karena itu saya perlu tampil sedemikian rupa untuk bisa menunjukan saya mampu.  Karenanya setiap serangan terhadap keputusan dan kebijakan berarti serangan terhadap ego.

Semakin besar lingkaran di luar esensi self yang disebut ego maka semakin ia merasa perlu untuk membela diri dan kemudian mencari-cari alasan terhadap suatu serangan ataupun kegagalan diri.  Disinilah blind spot muncul, ketika kita sudah begitu jauh mencari alasan sehingga kita sulit membedakan lagi antara alasan yang benar dan alasan yang dicari-cari.  Blind spot awalnya muncul karena kita ingin tetap merasa nyaman dengan diri kita.

Menerima kelemahan kita tetapi belum bisa mengubahnya saat ini masih bisa digolongkan hal wajar sebagai upaya ‘beristirahat sejenak’ dalam mengembangkan diri.  Tetapi kalau sudah menjadi blind spot, ia akan menjadi penghambat utama dalam pengembangan diri kita.

G. Suardhika

Trainer dari training Modern Time Management Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *