Evaluasi MPD: Menguji Perspektif Evaluasi

Comment

Blogs

Edisi 229, 28 Agustus 2018

Untuk menjalankan produktivitas optimal, kita memerlukan pengetahuan, kekritisan dan kejujuran dalam mengevaluasi suatu aktivitas dan mengevaluasi hari.  Bisa jadi kita merasa menjalani suatu hari yang kurang produktif karena berkutat dengan satu masalah tidak selesai-selesai.  Atau lebih parah lagi, kita merasa telah ‘membuang’ beberapa bulan waktu karena setelah menulis beberapa bab buku, ternyata hasilnya tidak bagus sehingga perlu dirombak total.

Dalam kasus yang berbeda, bisa jadi kita mengalami sakit panjang.  Bagaimana kita menilai produktivitas diri pada saat itu?  Bagaimana cara kita melihat istirahat sebagai sebuah hal yang produktif?

Demikianlah.  Menakar produktivitas diri pada saat-saat yang tidak biasa, memerlukan pemahaman dan perspektif yang benar.  Setiap orang mempunyai keunikan kondisinya masing-masing, karenanya diperlukan pengenalan diri dan kesabaran dalam mengarahkan diri untuk membentuk kebiasaan produktif.

Kembali ke kasus pertama.  Mungkin saja terjadi ketika Anda tengah frustasi dengan beberapa bab yang sia-sia tersebut, Anda mendapatkan ide yang orisinal untuk buku Anda, yang membuatnya jauh lebih baik dari yang Anda lakukan selama ini.  Bagaimana cara kita menghitung, apa yang disebut sebagai masa inkubasi, dalam produktivitas diri?

Apakah kita memilih kuantitas: menghasilkan banyak buku dengan ide yang kurang orisinal atau sedikit buku dengan ide orisinal?  Mana yang lebih produktif?

Semuanya kembali pada kebermaknaan: apa yang anda anggap penting dalam hidup Anda.  Karenanya produktivitas diri pada satu sisi adalah sebuah hal yang subyektif: dalam arti sesuai dengan kekuatan dan kelemahan diri Anda.  Namun, bukan dalam arti kesubyektifan yang berisi pembenaran terhadap kemalasan dan kenyamanan kita.  Karena bisa jadi suatu periode waktu ketika kita merasa tidak produktif ternyata kita produktif.  Sementara kelompok hari yang lain dimana kita sangat sibuk dan merasa produktif, sebetulnya tidak produktif dari segi pencapaian apa yang paling penting bagi hidup kita.

Pada saat hari-hari saya menulis.  Saya biasanya memilih untuk istirahat/tidur ketika mengantuk pada saat tengah menulis.  Mengapa?  Karena tingkat kreativitas akan menurun ketika kita tengah memaksakan diri menulis, ketika perhatian kita nggak full.  Bila kita hanya melihat dari jumlah jam kerja, kita bisa merasa hari tersebut tidak produktif.

Kreativitas memerlukan keterlibatan penuh, keterlibatan penuh memerlukan enerji yang memadai.  Bahkan merasa tergesa saja dalam mengerjakan sesuatu akan menghambat pencapaian hasil kerja yang optimal.  Tulisan ini dan beberapa tulisan sebelum dan sesudahnya saya buat dalam kondisi focus saya tengah berada di pekerjaan yang lain.  Akibatnya?  Saya memerlukan lebih dari 5 kali perbaikan tulisan untuk mendapatkan apa yang ingin saya sampaikan.

Disinilah keseimbangan antara tekanan dead line (orientasi output) dan memberikan waktu yang memadai (orientasi proses) perlu diupayakan sesuai dengan pemahaman kita akan target yang ingin diraih.  Ada saat dimana kuantitas penting, dan ada saat dimana kualitas penting.

Salah satu kesimpulan yang bisa ditarik dari  tulisan singkat ini adalah: jangan terlalu menghakimi diri ketika kita merasa hari kita tidak produktif, dan jangan terlalu bangga diri bila kita merasa hari kita produktif.  Kita perlu menyisakan sedikit ruangan untuk self compassion bagi yang pertama dan self doubt untuk yang kedua.  Yang penting akhirnya adalah konsistensi kita dalam mengoptimalkan produktivitas diri kita dari hari ke hari.

G. Suardhika

Trainer dari training Modern Time Management Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *