Evaluasi MPD: Menimbang Akurasi Evaluasi

Comment

Blogs

Edisi 227, 21 Agustus 2018

Seorang dengan concern yang rendah terhadap produktivitas diri akan mengevaulasi aktivitas ataupun harinya berdasarkan seberapa menyenangkan hari itu telah berjalan.  Makan enak.  Menikmati kerja.  Nggak dimarahin Bos.  Nggak ada tekanan dead line.  Seseorang juga bisa merasa sukses dengan hari yang jalaninya, ketika ia merasa telah sibuk seharian dan berhasil menyelesaikan banyak pekerjaan yang dibebankan padanya.  Tapi kepuasan terhadap proses dan output ini, pada suatu saat bisa terguncang ketika dia melihat ternyata ada temannya yang lebih sukses darinya.  Pada saat itulah muncul pertanyaan, apakah selama ini saya sudah sibuk dengan sia-sia?

MPD menekankan pada optimasi antara proses dan output, itu berarti Anda menikmati proses dan puas dengan pencapaian.  Sayangnya kondisi tersebut baru menunjukan bahwa Anda mencapai produktivitas diri secara subyektif.

Evaluasi sangat penting dalam sebuah upaya peningkatan produktivitas diri.  Tanpa sebuah proses evaluasi yang akurat kita dapat saja merasa sudah berusaha keras berlari dan sudah lelah melakukannya dan kemudian baru sadar kalau kita tengah berlari di tempat dengan kencangnya.  Tidak mencapai tujuan yang kita inginkan.

Akurasi evaluasi ditentukan beberapa hal.  Diantaranya adalah tingkat obyektivitas dari metode evaluasi kita.  Objektivitas diperlukan untuk menghilangkan distorsi subyektivitas yang bisa menghalangi ke-akurat-an.  Akurasi evaluasi juga ditentukan oleh pemahaman kita yang tepat mengenai produktivitas diri.

Karenanya penilaian subyektif perlu diuji dengan dua kriteria berikut:

  • Keseuaian dengan rencana karir dan kehidupan kita: seberapa jauh apa yang kita pilih saat ini on track dengan apa yang ingin kita capai di masa depan.
  • Perspektif yang tepat: keberhasilan Anda di dalam organisasi bisa jadi tidak memadai bila kemudian prestasi dan pengalaman Anda di organisasi tersebut tidak laku ‘dijual’ di luar. Ketika Anda karena satu dan lain hal perlu pindah kerja, ternyata Anda tidak bisa mendapatkan kompensasi yang baik.

Kepuasan kita pada hari yang kita jalani kemudian memang dibedakan antara apakah kita puas dengan perspektif yang tepat atau tidak.  Kepuasan yang didasarkan pemahaman produktivitas diri yang tepat akan menjadi penentu proses optimasi produktivitas diri.

Dengan demikian kesenangan, rasa sibuk, bahkan rasa berhasil karena telah menyelesaikan pekerjaan prioritas kita, ataupun telah mencapai suatu target tertentu, berlum tentu bisa menjadi evaluator yang memadai bahwa kita sudah mencapai produktivitas optimal.  Perlu ada proses refleksi diri terus-menerus untuk mendapatkan gambaran yang clear mengenai apa yang ingin dicapai dan memastikan bahwa aktivitas kita sehari-hari terkait dengan hal tersebut.

G. Suardhika

Trainer dari training Modern Time Management Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *