‘Experience Trap’

Comment

Blogs

Edisi 153, Selasa 30 Mei 2017

Apakah semakin seseorang berpengalaman dalam satu bidang, maka ia akan semakin ahli dalam bidang tersebut?  Kita akan cenderung menjawab ‘Ya’ terhadap pertanyaan ini.  Untuk apa seorang lama di satu bidang bila ia kemudian tidak menguasai bidang tersebut.  Gladwell dalam bukunya Outlier mempopulerkan istilah 10.000 hours, mengenai waktu yang diperlukan untuk bisa mencapai level expert.  Berdasarkan konsep tersebut, pengalaman 10 ribu jam (10 tahun) bisa membawa seorang menjadi ahli, bukan?  Sayang sekali jawaban terhadap pertanyaan itu adalah, ‘Tidak’.  Pengalaman tidak berkorelasi positif dengan keahlian.

MPD (Manajemen Produktivitas Diri) menekankan pada peningkatan kemampuan dalam mengelola aktivitas sehingga dari hari ke hari kita semakin mampu meningkatkan produktivitas diri, berdasarkan indikator kehidupan yang seimbang yang kita yakini.  Lalu bila pengalaman tidak selalu mengarah pada peningkatan kapasitas diri, lalu apa rute yang bisa kita tempuh untuk mencapai hal tersebut?

Salah satu disturbing fact yang mendukung hal ini adalah hasil dari sekitar 60 penelitian yang diterbitkan oleh Harvard Medical School yang mendukung kesimpulan tersebut.  Bahkan kesimpulan di sebagian penelitian tersebut adalah mereka yang lebih berpengalaman bisa jadi kalah ahli.  How come?

Untuk anda yang familiar dengan dunia korporasi, pasti memahami hal tersebut.  Anda sering menemukan para pemimpin senior yang bukannya menjadi lebih baik, tetapi malah lebih buruk ketika ia menjabat posisi yang lebih tinggi?

Mengapa bisa demikian?  Apa saja efek negatif dari pengalaman kita yang mewujud dalam ‘jebakan pengalaman’ tersebut?  Beberapa kemungkinan akan disampaikan berikut ini.

Pertama, adalah tingkat kejenuhan yang muncul dari mengerjakan hal yang relatif sama selama bertahun-tahun.  Ini menyebabkan kita masuk pada kelembaman.  Pada area nyaman kita yang menyulitkan kita untuk berubah.

Rasa bangga karena sudah mencapai kemampuan tertentu, yang membuat kita sulit menerima umpan balik dari orang lain atau bahkan untuk mendorong kita mengikuti perkembangan yang ada dalam profesi kita.

Tidak update nya pengetahuan dan ketrampilan dari para senior karena mereka merasa telah nyaman dengan ketrampilan dan kebiasaan yang sudah mereka kuasai saat ini.  Mengetahui yang baru kadang menunt kita meninggalkan kebiasaan lama yang dinilai sudah tidak efektif dan itu menimbulkan rasa tidak nyaman.

Bagaimana cara kita menghindari ‘jebakan pengalaman’ di atas?  Salah satunya, dengan kita memahami apa yang diperlukan seseorang untuk menjadi ahli dan tetap berada di level tersebut.  Disinilah kita perlu paham mengenai Deliberate Practice.

G. Suardhika

Trainer dari training Modern Time Management Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *