Fake Productivity (Produktivitas ‘Bohongan’)

Blogs

Edisi 56, Jumat, 11 Maret 2016

Fake productivity datang dari orang yang merasa perlu terlihat sibuk supaya tidak dipecat ataupun tidak dikasih banyak pekerjaan oleh Bos nya.  Fake productivity juga datang dari organisasi yang banyak dead line dan rush dan pressure tetepi tidak tumbuh, malah semakin merugi di tengah industri yang tumbuh.  Bagaimana bisa?

Anda pernah menemui orang yang terlihat sibuk bekerja tetapi hasilnya tidak jelas?  Ketika berjalan di lorong kantor dia selalu tergesa-gesa.  Ketika Anda sapa dia terkesan panik dan berbicara dengan cepatnya.  Tapi kalau dilihat hasil kerjanya, tidak sebaik karyawan atau manajer yang lain.

Fake productivity, pada level perorangan bukan organisasi, muncul karena sebuah sistem keyakinan yang tidak tepat yang ditanamkan seseorang pada dirinya.  Bunyinya, ‘kalau saya tidak sibuk maka saya bisa di-PHK’.  Karenanya orang seperti ini akan merasa tidak tenang kalau hanya ada sedikit pekerjaan.  Atau kalau terlihat kurang sibuk bagi orang lain.

Penyebab lain dari ‘penyakit’ ini muncul pada orang-orang yang mencari perhatian dan penghargaan dari orang lain.  Ia merasa orang-orang sekitarnya akan banyak memperhatikan dia ketika dia sibuk dan memandangnya dengan kagum.

Fake productivity tentunya merupakan salah satu musuh dari MPD.  Karena orang dengan keyakinan ini biasanya akan merasa ia telah cukup sibuk sehingga tidak mungkin lagi untuk bisa lebih produktif.  Ia akan mempertahankan keyakinannya, walaupun ia melihat bahwa Atasan dan Perusahaan, serta bahkan rekan kerja dan bawahannya sebetulnya kecewa terhadap kinerjanya.

Dalam konteks produktivitas organisasi, fake productivity muncul karena tidak adanya KPI yang jelas, serta tidak adanya alignment yang baik diantara KPI tersebut.  Tanpa itu setiap orang mempunyai intepretasinya sendiri mengenai apa yang diharapkan darinya dan berusaha mencapainya.  Bayangkan situasi ekstrim berikut, ada 2 kelompok orang mendayung dengan kerasnya semakin lama semakin cepat dan semakin bertenaga, tetapi perahu tidak bergerak atau berjalan tidak beraturan menjauhi sasaran yang ingin dicapai.  Kenapa?  Karena 2 kelompok itu mengayuh berlawanan atau mengayuh secara acak.  Sia-sialah enerji yang sudah dikeluarkan oleh setiap anggota kelompok.

G. Suardhika

Trainer dari Training Modern Time Management Jakarta