Gradasi Penjadwalan

Blogs

Edisi 133, Selasa 7 Pebruari 2017

Seperti telah dibahas sebelumnya, Penjadwalan adalah sebuah ekseskusi dari optimasi penggunaan waktu dengan memasukan alokasi waktu dari prioritas aktivitas kita dan janji-janji kita ke dalamnya.  Pada dasarnya ia adalah sebuah kebiasaan untuk menjalankan hari dengan ter-rencana. Terdapat gradasi dalam penjadwalan dari mulai sekedar meletakan prioritas sampai dengan mempunyai jadwal yang sampai diatur menit ke menit.

Secara sederhana kita bisa memulai hari kita, secara ter-rencana atau tidak ter-rencana.  Pendekatan hari yang tidak ter-rencana, memungkinkan kita memulai hari dengan tidak dibangunkan oleh weker.  Kita hanya bangun di pagi hari ketika kita sudah merasa ‘tidur cukup’.  Kemudian memulai hari kita dengan hal yang menyenangkan.  Sebelum sesegera mungkin, mulai mengatur prioritas kita hari itu.

Pendekatan di atas adalah pendekatan minimal dari seorang MPD-er.  Ia tidak ingin terganggu tidurnya sehingga tidak mengatur prioritas kerjanya H-1.  Yang dia pastikan hanya tidak ada hal yang urgent yang harus ia lakukan esok hari.  Ia hanya mulai mengarahkan fokus dan eksekusinya ketika ia sudah selesai dengan istirahat dan melakukan hal yang menyenangkan secukupnya (seminimal mungkin).  ‘Kemewahan’ ini tentu hanya dirasakan oleh seorang yang tidak lagi dikejar oleh kebutuhan ekonomi.

Mengapa kelompok ini masih bisa masuk dalam level produktif?  Paling tidak karena ia masih meletakan default-nya pada sesegera mungkin melakukan hal yang produktif.  Disamping itu, tidur  yang cukup dan memulai hari dengan hal yang menyenangkan juga tidak bisa dikatakan sebagai aktivitas yang tidak produktif.  Kedua aktivitas tersebut dibutuhkan untuk mendapatkan enerji (dari istirahat dan perasaan senang) yang diperlukan untuk sebuah kerja yang optimal.

Situasi di atas akan masuk ke situasi non produktif bila kita melakukannya secara berlebihan.  Tidur kebanyakan.  Melakukan hal yang tidak bermanfaat terus menerus.  Terus menerus chatting di HP atau terus-menerus berada di depan TV.  Atau terus-menerus browsing ataupun membaca koran sampai lebih dari 1 jam setiap harinya.

Level 1 dari penjadwalan ini walaupun terkesan sebagai tingkat produktivitas ter-rendah, bisa jadi merupakan pilihan yang efektif bila pekerjaan seseorang berorientasi kualitas: seniman, penulis, peneliti, dll yang membutuhkan kedalaman dalam bekerja sehingga enerji yang optimal dan clear thinking sangat dibutuhkan.

Hal di atas di sebut level 1 dalam penjadwalan karena timing penjadwalannya: di hari H itu sendiri.  Pengisian jadwalnya yang cenderung hanya prioritas saja dan appointment.  Dan jumlah prioritas yang sedikit, kurang dari 5 aktivitas utama setiap harinya.  Serta fleksibilitasnya dalam mengisi harinya.

G. Suardhika

Trainer dari training Modern Time Management Jakarta