Handphone dan Produktivitas Diri

Blogs

Edisi 32, Jum’at , 18 Desember 2015

Jurnalis Matt Richtel, seperti dikutip di buku The 5 Choices (Rory Kagan, dkk), ingin mengetahui apa yang terjadi bila kita berada di ‘blank spot’ selama beberapa hari.  Bersama sekolompok ilmuwan mereka pergi ke daerah terpencil yang tidak ada signal.  Kesimpulannya?  Diperlukan 3 hari untuk kita berada di ‘blank spot’ tersebut untuk kemudian kita merasa lebih relaks, dapat tidur lebih nyenyak, tidak merasa tergesa lagi dan bisa lebih berpikir sebelum bertindak (halaman 186).  Berarti sebelum 3 hari tersebut, kita merasa gelisah karena masih kehilangan aktivitas ber-HP kita.

Manusia modern bisa jadi tidak pernah benar-benar mengalami apa itu kehidupan yang relaks.  Pagi dimulai dengan kehebohan untuk segera berangkat ke kantor dan malam diakhiri dengan tertidur kelelahan.  Semua itu dilakukan dengan berbagai upaya untuk multitasking untuk memonitor dan me-respond apa yang masuk di dalam HP nya dan apa yang sedang ia jalankan pada saat itu.

Perasaan urgency merupakan salah satu efek mobile phone yang tidak kita sadari.  Kita tidak menyadari bahwa ketidakmampuan kita mengelola HP dengan baik sudah membuat ia yang menguasai kita bukan sebaliknya.

Tetapi efek ini belum termasuk kategori yang berat (karena manusia modern memang sudah selalu bergegas), dibanding dengan berbagai efek lainnya.  Dua diantaranya adalah efeknya terhadap aktivitas sosial kita dan efek adanya perasaan bermakna yang semu.  Mari kita bahas kedua hal tersebut.

Sudah banyak yang menyinggung mengenai efeknya pada perilaku sosial dan bahkan sudah ada beberapa orang yang mencoba mengatasinya, misalnya dengan mematikan HP ketika memasuki rumah sehingga interaksi sepulang kerja bisa full dengan keluarga atau serangkaian teman yang sepakat untuk meletakan HP di tengah pada saat makan bersama, dan menghukum mereka yang mengambil HP duluan, dengan membayar seluruh makanan atau minuman.

Robert Kraut yang dikutip oleh buku 5 Choices (hal. 194) mengatakan bahwa hubungan di dunia maya tidak mempunyai efek dukungan psikis ataupun kebahagiaan seperti yang ada dalam hubungan sosial yang real.  Bahkan bisa jadi terlalu sibuk dengan hubungan sosial di dunia maya yang umumnya bersifat tidak dalam malah menimbulkan kesepian karena kurangnya hubungan sosial yang bermakna. Padahal hubungan sosial yang bermakna telah dibuktikan oleh berbagai penelitian akan membuat orang lebih bahagia, sehat dan berumur panjang.  Dr.  Ed Hallowell menyebutnya sebagai hilangnya human moment karena digantikan oleh e moment.

Sebenarnya kita sudah menyadari efek buruk HP terhadap sosial sehingga ada istilah yang populer, ‘menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh’, tetapi permasalahannya adalah kenapa setelah kita tahu efek buruknya, kita tetap tidak berdaya mengalahkan godaan untuk mengangkat HP yang berbunyi atau bergetar atau berkelip.  Jawabannya bisa jadi karena dia telah memberikan perasaan bermakna yang semu pada diri kita.

Merasa diri penting atau merasa mencapai sesuatu dengan banyak berinteraksi di HP, bisa jadi merupakan efek yang terburuk.  Inilah yang disebut perasaan bermakna yang semu.  Tanpa terasa waktu interaksi kita dengan HP setiap harinya sekarang bisa jadi sudah mencapai 2 atau 3 jam atau bahkan ada yang sudah mencapai 5 jam.  Justifikasi orang yang banyak menghabiskan waktunya di HP adalah karena ia melakukan berbagai koordinasi pekerjaan di sana.  Tapi tanpa monitoring dan disiplin yang baik, maka sebetulnya kita hanya menggunakan 10 persen saja dari waktu tersebut untuk kerja.

Tidak ada salahnya untuk mencoba berbagai strategi mengatasi hal tersebut.  Mulai mematikan HP atau menjauhkan HP pada jam-jam tertentu, sampai mempunyai 2 HP terpisah untuk kerja dan personal.  Intinya adalah monitoring yang baik sehingga kita tahu seberapa jauh kita sudah menyia-nyiakan waktu dengan ber-HP.

G. Suardhika

Trainer dari Training Modern Time Management Jakarta