In Search of Win-win

Blogs

Edisi 109, Selasa, 27 September 2016

Inilah yang typical saya temukan dari satu perusahaan ke perusahaan lain pada saat memberikan pelatihan: karyawan yang hampir-hampir kehilangan semangat kerja, pemimpin yang lebih menggunakan pressure daripada empowerement, senior management position yang lebih berusaha menyelematkan posisi daripada perusahaan.  Semua kondisi di atas, menyebabkan kinerja organisasi hanya berada pada kisaran 60 persen atau bahkan lebih rendah dari itu.

Seberapapun jelasnya fakta ini dan seberapapun inginnya manajemen untuk meningkatkan kinerja yang ada, namun kita terjebak dalam sebuah situasi yang unik.  Saya menyebutunya situasi ‘kalah – kalah’.  Pemegang saham yang tidak sabaran dan takut kehilangan uang nya, ataupun return nya tidak mencapai target.  Direksi yang khawatir tidak mencapai target profit nya.  Manajer dan karyawan yang takut kehilangan posisinya.  Ketika fear menjadi motivasi utamanya, maka jalan keluarnya adalah ‘mencari selamat’, yang akan memunculkan kinerja minimal.

Dalam kondisi inilah, Good selalu tampil lebih superior dari Great.  Good sudah mencerminkan usaha (walau seadanya, karena berada di daerah aman), sudah mencerminkan hasil bagi setiap pihak.  Sementara itu untuk mencapai great perlu melalui area yang ber-resiko, perlu ‘rocking the boat’, yang bisa menyebabkan salah satu pihak harus dikorbankan atau berkorban, karena honest mistake ataupun karena kambing hitam.  Sehingga win-win diartikan, yang penting semua selamat.

Sulit untuk mendapatkan prestasi superior dalam kondisi tersebut.  Apalagi, bila ke dalam situasi tersebut ditambahkan kesan bahwa speed dan kuantitas lebih penting dari kualitas.  Asal produksi tinggi, walaupun tidak inovatif.  Asal barang cepat sampai ke pasar, walaupun masih banyak buck nya sehingga mengecewakan customer.  Asal bisa segera merekruit karyawan, walaupun tidak berpotensi.

Kualitas membutuhkan pertumbuhan yang natural dari kompetensi dan organisasi.  Ia  membutuhkan kesabaran dan rasa aman bagi setiap pihak untuk fully engaged dalam kerjanya dan berani membuat kesalahan yang diperlukan.  Karena antara good dan great ada sebuah zona yang membedakan performance seadanya (yang menggunakan indikator speed dan kuantitas) dengan performance optimal (yang menggunakan indikator kualitas dan keberlangsungan).

Tentunya pilihannya bukan all or none, untuk mencapai kualitas, maka kuantitas dikorbankan.  Pada ujungnya adalah sebuah seni untuk memahami seberapa jauh kuantitas perlu dinomorduakan untuk sebuah kualitas dan sebaliknya.  Sebuah kemampuan untuk menentukan seberapa jauh pertumbuhan lebih diutamakan daripada keuntungan jangka pendek dan sebaliknya.

Zona ini berisi kemampuan untuk inovatif, taking reasonable risk, sinergi, fully engaged, fun dan kesediaan berkorban.  Termasuk berkorbannya pemegang saham untuk menunggu hasil investasi yang lebih besar.  Itulah breakthrough yang diperlukan dari kinerja 60 persen ke kinerja 100 persen.  Apakah Anda bersedia menambahkan resiko, effort, keterlibatan, kreativitas, inovasi ke dalam kerja Anda untuk mencapai optimum human performance di organisasi Anda?

Inilah yang disebut win-win bagi MPD.  Bukan win-win ‘mencari selamat’, tetapi win-win ‘optimum performance’.

G. Suardhika

Trainer dari training Modern Time Management Jakarta