It Takes Time…

Comment

Blogs

Edisi 230, 4 September 2018

Bayangkan situasi berikut, mungkin Anda perlu mengubah bayangannya dalam format kartun supaya lebih ‘real’, ada bayi lagi belajar merangkak, datang ke depan Anda dan berkata, ‘tahun depan aku akan jadi juara dunia lari 100 meter…’, sambil tersenyum memperlihatkan giginya yang ompong.

Apa komentar Anda, setelah menutup mulut Anda yang menganga itu?  ‘Gila apa, no way….lalu tertawa mencibir’.  Nah silakan menggunakan bayangan ini ketika kita berharap bisa langsung menyukai pekerjaan Anda, atau langsung menjadi ahli dalam pekerjaan Anda, atau langsung untung besar dalam bisnis, atau langsung mendapat promosi, atau langsung menjadi sangat produktif setelah membaca buku ini, serta langsung…langsung yang lain…

Anda tahu bahwa setiap orang, termasuk bayi ajaib itu perlu menghargai proses: bisa berjalan dulu dengan baik, lalu belajar berlari, lalu berlari, lalu meningkatkan kecepatan lari, lalu menang kompetisi di RT, RW, Kelurahan/Desa, Kecamatan, Kota, Nasional, Asia, barulah….dunia.  It takes time….

MPD meyakini bahwa produktivitas yang berkelanjutan, salah satunya merupakan hasil dari membangun kebiasaan produktif secara bertahap:

  • Kemampuan untuk menemukan mana aktivitas yang berat (dan saya tidak menyukainya), tetapi penting untuk mencapai goal saya.
  • Meletakan di dalam agenda kita
  • Mulai berkomitmen untuk mengerjakannya 15 menit lalu 30 menit sambil berusaha menemukan sisi menarik dari pekerjaan itu
  • Mencari cara mengerjakan dengan lebih efisien sebelum anda merasa jenuh atau bahkan menyerah
  • Mencari bagian yang bisa didelegasikan.
  • Dan seterusnya.

Saya coba memberikan ilustrasi lain mengenai mencintai aktivitas dari sesuatu hal yang dekat dengan saya, menulis.  Bila saya ingin memulai menulis langsung dengan hasil yang baik, pasti saya akan selalu kecewa.  Sudah 100 atau bahkan 200 sampai 300 halaman yang telah saya tulis dan saya baca kembali dengan komentar jujur pada diri saya, ‘wah kalau Cuma segini saja mah nggak ada artinya tulisan ini…’

Bahkan saya yakin sebagian dari ratusan tulisan tersebut sudah berupa buku yang siap diterbitkan dan kalau saya mau rajin menjual buku tersebut pada penerbit atau membiayai sendiri terbitnya, maka dia akan segera menjadi buku yang ‘dilupakan’, walaupun saya tetap dapat mengingatnya dan membangga-banggakannya.

Saat ini saya memahami bahwa untuk bisa menulis satu topik dengan baik, saya sudah mulai memikirkan topik tersebut (bahkan sampai ke obsesi terhadapnya) selama beberapa saat sehingga dia dapat mengendap dan membuat saya memahami perspektif yang tepat dari hal tersebut.

Untuk punya banyak ide yang ‘rada orisinal’ maka saya perlu baca banyak literatur dan lihat banyak film presentasi di youtube terkait topik tersebut.  It takes time…..Bisa beberapa tahun untuk membaca pustaka untuk sampai pada ide yang semi orisinal dan beberapa waktu lagi untuk memformat sebuah teori atau buku dalam area tersebut.  Karenanya, ini excuse saya ketika tengah menyesali lamanya saya menulis buku: Stephen Covey membuat bukunya yang terkenal, ‘Seven Habits…’ pada usia 57 tahun.  Dan Peter Drucker menulis 2/3 dari buku-bukunya ketika dia berusia di atas 65 tahun.

Ketika kita paham tahapan yang perlu dilalui maka kita tidak berharap seperti bayi di paragraf pertama tadi.  Kita jadi lebih realistis tetapi tetap mendorong diri kita untuk lebih baik.  Kita meningkatkan kemampuan dan produktivitas kita setahap demi setahap.  Tetapi tentu ini bukan berarti menurunkan keinginan kita, tetapi malah memperkuat sehingga bisa bertahan dalam jangka yang lebih panjang.

G. Suardhika

Trainer dari training Modern Time Management Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *