Ketika Minion Jenuh

Blogs

Edisi 16, Jum’at 23 Oktober 2015

Minion meletakan tubuhnya hampir-hampir seperti orang menjatuhkan diri ke kursi di depan saya.  ‘Saya jenuh sekali’, tanpa saya persilakan,  apalagi saya tanya, ia langsung bercerita panjang, tentang proyek x, y dan z.  Ia tampak seperti petinju yang kalah dalam 3 ronde oleh ketiga proyek tersebut.  Mukanya pucat, matanya lesu.  Saya paham proyek itu, karena tahun lalu saya-lah yang mengerjakan proyek serupa, sebelum mendapatkan proyek yang lebih berat tahun ini.

‘Saya perlu cuti panjang nih’, katanya dengan senyum dipaksakan.  ‘ya ajukan saja..On ke Bos’, rasanya lebih pas memanggil dia dengan On, daripada Mini, karena badannya yang besar.  Walaupun dengan resiko bahwa On dianggap mengacu ke Oon.

Saya juga tidak paham kenapa dia dipanggil Minion.  Hikayat yang beredar di kantor ini, tadinya ia dipanggil si Mini secara diam-diam karena berbeda dengan badannya, nyalinya kecil, sering mengeluh.  Lebih jauh lagi, fisiknya lemah, sering sakit-sakitan.  Tapi kemudian panggilan yang menjadi rahasia umum tersebut, bertransformasi menjadi Minion, ketika ia secara mendadak mengaku sebagai penggemar film tersebut.

‘Tapi jatah cuti saya sudah tinggal 2 hari.  Saya terlalu bekerja keras tahun ini’.  Saya tersentak dari lamunan, ketika ia me-respond saran saya tersebut.

Jenuh, apalagi burn out yang merupakan kejenuhan yang berkepanjangan sampai tidak bersemangat kerja lagi, sebetulnya bukan menunjukan bahwa seorang telah produktif di tempat kerjanya.  Ia justru indikator bahwa seseorang tidak berhasil mengelola enerjinya dengan baik.   Begitulah yang saya pahami.  Sayangnya saya tidak bisa mulai memberi nasehat pada kolega yang tampak lesu di depan saya ini.  Saya baru kenal dia, lagipula, saya takut bertatapan dengan dia, matanya itu lho….besar sekali.

G. Suardhika

Trainer dari Training Modern Time Management Jakarta