Know your Productivity Paced Style: High or Low Paced Productivity?

Blogs

Edisi 46, Jumat, 5 Pebruari 2016

Bayangan tentang seorang yang produktif biasanya  terkait dengan kemampuan mengelola beban kerja yang tinggi, bekerja dengan cepat, ‘multitasking’ ataupun switching tugas dengan cepat dan sering, long hour, kemampuan mengelola stres, yang semuanya mengarah pada daftar tugas dan pending item yang banyak. 

Itulah ciri executive yang berhasil, disayang Bos, disayang pemegang saham dan berhasil dalam karirnya.  Bila Anda penggemar metode Get Things Done dari David Allen, maka tampaknya David Allen sendiri dengan banyaknya item yang dikelolanya mengarah pada pencapaian High Paced Productivity.  Tipe yang ini lebih sering dikatikan dengan peningkatan produktivitas kerja dalam perusahaan.

Seorang High Paced Productivity adalah seorang yang tetap mampu untuk fokus, balanced, calm, walau dalam demand pekerjaan yang sangat tinggi.  Namun, High Paced Productivity baru satu ujung dari continum pacing dalam produktivitas.  Tingkat pacing mengacu pada tingkat beban dan kecepatan kerja kita.  Dalam produktivitas diri, pacing kerja idealnya kita yang menentukan sesuai dengan kebutuhan kerja kita dan kebutuhan diri kita sendiri.  Karena kalau tidak, seorang bisa mendapatkan tekanan untuk mencapai pacing yang tinggi, tetapi kualitas kerjanya mungkin terkorbankan dan dalam jangka panjang akan menyebabkan gangguan psikis dan fisik.

Tentunya adalah sebuah seni sendiri untuk bisa menentukan batas stretching kita.  Antara tetap berkembang dengan sehat ataupun mengalami break down karena beban kerja yang terus-menerus.

Di tulisan lain di blog ini, ada istilah lain yang mengacu pada hal yang sama, yaitu workstyle.

Ujung continuoum yang lainnya, adalah Low Paced Productivity, yaitu orang-orang yang memilih untuk sangat selective dalam loading/komitmen sehingga bisa menjalani hidup dengan pacing yang lebih lambat tetapi pada area yang paling penting bagi hidupnya.

Pacing terkait dengan pilihan kecepatan dan beban aktivitas yang sesuai dengan profesi dan kebutuhan kita.  Seorang seniman lukis, misalnya, tidak harus menjadi seorang yang produktif dengan menghasilkan banyak lukisan.  Ia bisa saja memilih, dan mungkin ini malah yang terbaik baginya untuk menghasilkan sedikit lukisan dengan kualitas tinggi.  Demikian juga dengan profesi penulis, konsultan bahkan juga pengusaha.  Seorang pengusaha bisa memilih mempunyai sedikit bisnis tapi profitable dan memadai untuk hidupnya, serta menggunakan sisa waktunya untuk menikmati atau melakukan aktivitas di dimensi lain dalam hidupnya.

G. Suardhika

Trainer dari Training Modern Time Management Jakarta