Kontrol

Blogs

Edisi 76, Jumat, 20 Mei 2016

Pada suatu pelatihan Time Management yang saya berikan, ada sebuah peserta yang berposisi GM dari sebuah perusahaan dengan level menengah, dengan aset puluhan miliar rupiah, yang menghabiskan sekitar 60 persen waktunya untuk mengontrol pekerjaan frontliner, yang jelas-jelas bukan staf nya langsung.

Pada kesempatan pelatihan yang lain, ada sebuah owner dari sebuah perusahaan yang memasang cctv di berbagai sudut ruang kerja perusahaannya untuk memastikan karyawannya tidak datang terlambat dan selalu terlihat bekerja.

Saya pernah berkesempatan untuk memberikan pelatihan supervisory di sebuah pabrik.  Pada saat itu tampaknya mereka sedang mengalami kehebohan kecil karena pada hari itu mereka harus menunjukan bahwa ruang-ruang kerjanya sudah bersih karena ingin dikontrol oleh kantor pusatnya yang ada di Singapura.  Cara mengontrolnya, dengan mem-film-kan secara life kondisi setiap ruangan, termasuk bahwa sepatu-sepatu harus ditaruh di lobi, dan karyawan masuk dengan sendal khusus.  Sebagai catatan, perusahaan ini bukan perusahaan elektronik yang memang memerlukan kebersihan tinggi untuk area tertentu ruang kerjanya.

Masalah dalam kontrol, memang ini: bagaimana melakukannya sampai pada level yang cukup untuk membuat aktivitas tim berjalan dengan terkendali, dengan tetap menjaga level kepercayaan yang tinggi dan tidak mengacaukan prioritas kita sebagai pemimpin.

Ketika aktivitas mengontrol tidak dilihat sebagai aktivitas manajemen, maka ia bisa jadi hanya dilihat sebagai ekspresi menyalurkan kekhawatiran atasan.

Menemukan tingkat kontrol yang pas berarti menjaga optimasi dari pengendalian, pemberian kepercayaan dan prioritas pekerjaan.  Over control bisa membuat pengendalian terlalu kaku, staf merasa tidak dipercaya dan prioritas pekerjaan kita berantakan.  Bila ini terjadi, sudah pasti produktivitas kerja juga akan terganggu.

Yang perlu dilakukan pemimpin adalah mengembangkan sense of control yang efektif dan bukan sebuah kontrol yang obsesif yang menjadi sumber time waster.

G. Suardhika

Trainer dari Training Modern Time Management Jakarta