Magnet dari Hal Menyenangkan (2)

Comment

Blogs

Edisi 220, 3 Juli 2018

Merespond tarikan hal menyenangkan dengan penolakan, dan dengan peningkatan disiplin, tidak selalu merupakan pilihan yang tepat.  Aktivitas menyenangkan seringkali terkesan memang menghambat kita fokus dalam melakukan aktivitas penting, tetapi ia sebetulnya mempunyai manfaat juga.

Diantaranya, aktivitas menyenangkan itu mengarahkan kita pada minat kita.  Mengubah hal menyenangkan (misalnya: hobi) menjadi produktif (dalam arti bisa menghasilkan atau bermanfaat bagi orang banyak) pada umumnya lebih mudah daripada belajar menyukai hal penting yang perlu kita kerjakan.  Karenanya aktivitas menyenangkan sebetulnya membantu kita menemukan pekerjaan yang sesuai dengan passion kita.

Kata kuncinya adalah menyadari ketertarikan kita pada aktivitas lain, menerimanya, memahaminya dan mengelolanya sehingga dia bisa menjadi sumber enerji kita untuk melakukan hal penting.  Mengabaikannya bisa jadi malah akan memberatkan kita dalam bekerja.  Memaksakan diri sehingga menimbulkan keterlibatan yang minimal malah akan menghasilkan pekerjaan dengan kualitas yang buruk atau, lebih parah lagi, bisa jadi kita melakukan kesalahan yang memerlukan biaya recovery yang besar.

Selain memahami tarikan mangnet aktivitas menyenangkan.  Kita juga perlu memahami magnet tolakan yang kita rasakan dari pekerjaan yang kita hadapi saat ini.  Karena bisa jadi magnet tarikan aktivitas lain sebetulnya tidak begitu besar tetapi karena magnet tolakannya begitu besar maka akibatnya lebih sulit bagi kita untuk mengerjakan pekerjaan penting tersebut.  Inilah yang menjadi sumber penundaan pekerjaan (procrastination).

Ada tiga jenis penolakan.  Pertama, yang paling ringan adalah karena kita merasa bahwa enerji kita tidak memadai.  Sehingga kita hanya membutuhkan istirahat, refreshing, untuk bisa kembali mengerjakan pekerjaan tersebut dengan baik.

Kedua.  Kita tidak suka dan bosan dengan pekerjaan itu.  Yang menyebabakan kita perlu mendekati pekerjaan itu dengan lebih strategik: mengalihkan pada orang lain ataupun mencari cara untuk men-short cut pekerjaan itu.  Atau memang perlu mencari pekerjaan yang lebih sesuai dengan minat dan kemampuan kita.

Ketiga.  Kita mempunyai penolakan terhadap Atasan ataupun terhadap Perusahaan.  Sehingga kita bukan tidak menyukai pekerjaannya, tetapi lebih pada konteks dari pekerjaan tersebut.

Tentunya yang paling berat adalah bila kitiga hal ini tergabung.  Bayangkan Anda di sore hari ketika tengah bersiap pulang, diminta untuk mengerjakan sebuah pekerjaan yang sulit dan tidak Anda sukai dari Bos yang tidak Anda sukai.  Pernah merasakan itu?  Nah inilah, salah satu tantangan utama dalam bekerja di organisasi.

G. Suardhika

Trainer dari training Modern Time Management Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *