Manusia sebagai Mahluk Organisisasi

Blogs

Edisi 67, Selasa, 19 April 2016

Istilah ini masih asing terdengar di telinga kita padahal kita terlibat secara intensif di dalamnya.  Dimanapun manusia berada ia selalu mendapatkan dirinya dalam berbagai organisasi.  Baik itu formal ataupun informal.

Mulai dari warga, organisasinya bernama negara atau bahkan RT, sampai dengan karyawan, organisasinya bernama Perusahaan.  Itu yang formal, sedangkan informal, bisa jadi kelompok pertemanan, gang ataupun kekeluargaan.  Manusia memerlukan keterlibatan dalam organisasi karena terkait dengan kebutuhannya untuk mencapai tujuan bersama secara berkelompok.

Mengapa penting memahami manusia sebagai mahluk organisasi?  Karena salah satu kriteria produktivitas diri kita adalah bila kita berhasil menjalankan fungsi dari posisi kita di dalam berbagai organisasi tersebut dengan optimal.  Mulai dari membayar pajak, mengikuti kegiatan RT sebagai warga, sampai dengan menjadi manajer yang baik, bila posisi manajer yang anda emban dalam suatu organisasi.  Ataupun berkontribusi dalam kekerabatan pertemanan dan keluarga.

Dalam konteks ini yang perlu kita diskusikan dalam tulisan singkat ini hanya sebatas ini: bagaimana menjadi produktif sebagai mahluk organisasi?  Bila organisasinya formal, maka jawaban sederhananya adalah ini: memahami fungsi, job description, target, wewenang dan tanggung jawab dari posisi kita.  Dan kemudian menjalankannya dengan optimal.

Terkesan sederhana tetapi sebetulnya tidak mudah.  Karena optimasi yang ideal adalah optimasi yang harmonized dalam menjalankan fungsi dan peran dalam berbagai organisasi yang kita miliki.  Kadangkala itu tidak mudah karena terjadinya konflik peran.  Peran sebagai ayah dibanding peran sebagai Direktur di suatu perusahaan.  Peran sebagai istri dan peran sebagai owner dari suatu perusahaan.  Peran sebagai Gubernur dan peran sebagai anak.  Dan seterusnya.  Apa itu posisi dan apa itu peran?

Posisi terkait dengan kontribusinya terhadap organisasi.  Sedangkan peran didefinisikan sebagai manfaat yang diberikan kepada stake holder, para pemegang kepentingan, orang-orang yang terkait dengan kita.  Bisa dalam konteks organisasi, seperti: atasan, bawahan, kolega, customer dan sebagainya.  Bisa juga pada level personal, seperti: sebagai orang tua, anak, sahabat, dan sebagainya.

Mengoptimalkan kontribusi dalam kaitan dengan peran berarti memahami apa yang dibutuhkan stake holder dari kita dan bagaimana cara memenuhinya secara seimbang.  Hanya dengan cara itulah produktivitas diri dan organisasi dapat dioptimalkan.

G. Suardhika

Trainer dari Training Modern Time Management Jakarta

Incoming search terms:

  • contoh manusia adalah mahluk organisasi
  • contoh manusia sebagai mahluk organisasi
  • manusia sebagai makhluk organisasi