‘Mau kemana’ dulu, ‘Mau Ngapain’ kemudian

Blogs

Edisi 90, Jumat, 8 Juli 2016

Pada satu titik dalam kehidupan saya, saya pernah mengundurkan diri dari posisi manajemen, mengurangi dari sering ke kantor ke hanya satu hari per minggu saja dan akhirnya, bingung mau ngapain dengan hari-hari saya.

Mengapa saya melakukan itu?  Alasannya cukup jelas buat saya, perusahaan sudah tidak membutuhkan saya lagi di posisi itu, tim saya sudah siap untuk jalan tanpa saya.  Alasan untuk melakukan itu jelas.  Apa yang perlu saya lakukan setelah itu yang sangat tidak jelas.  Ibarat orang sudah sampai di persimpangan, dia belok dulu, lalu setelah itu baru bingung, apa yang akan dilakukan dengan jalurnya yang baru ini.

Beberapa bulan di awal, waktu saya terutama diisi dengan menonton berbagai acara kabel TV dan youtube.  Saya jelas punya rencana yang besar, tetapi bingung mulai dari mana.  Bingung menurunkan rencana tersebut kepada aktivitas di setiap harinya, akhirnya dimulailah hari-hari dengan kesibukan yang rendah, tetapi bisa jadi produktivitas lebih tinggi dari sebelumnya.

Lho kok?  Tidak sibuk, tetapi lebih produktif dari sebelumnya?  Exactly.  Karena saya berada di jalur karir saya, walau belum bisa memacu diri dengan kencan, karena masih belum tahu caranya.  Sementara sebelumnya, saya memacu diri dengan kencang (baca: sibuk), tetapi bisa jadi ‘masuk ke jurang’ bila terus berada di track tersebut.

Disinilah kita paham bahwa mengetahui kemampuan saya, minat saya, bakat saya, tidak ada artinya bila kita tidak paham mau menuju kemana.  Kita tidak bisa menggunakan waktu kita sebatas mengikuti hobi, tetapi kita perlu paham hobi kita mau dipakai untuk apa, seberapa pentingnya hobi kita dalam kaitan dengan tujuan hidup kita, atau apakah hobi kita tersebut merupakan sumber karya utama hidup kita, atau dia hanya sekedar sebagai sarana pengisi waktu senggang.

Mau melakukan apa, hanya bisa kita jawab, kalau kita sudah menjawab mau kemana: apa yang ingin kita capai dalam hidup kita.  Kemudian, memang ada proses panjang trial & error sebelum keiginan kita makin tajam dan dalam.  Serta akhirnya tertuangkan dalam aktivitas harian yang semakin lama semakin fokus, optimal dan produktif.

Lebih baik mengetahui mau mengarahkan mobil sederhana ini kemana, daripada mengendarai mobil mewah tapi bingung kemana, sehingga akhirnya berpusing-pusing saja lah kita ini….

G. Suardhika

Trainer dari training Modern Time Management Jakarta