Membangun keterkaitan (integrasi)

Comment

Blogs

Edisi 198, 20 Pebruari 2018

Untuk dapat memastikan bahwa air di hulu akan bisa mengalir dengan lancar sampai ke hilir maka perlu ada integrasi yang baik dari berbagai sub proses yang mempengaruhi aliran tersebut.  Sebuah sistem yang baik akan mempunyai konektor yang kuat dalam mengaitkan satu sub proses dengan lainnya.  Itu yang menyebabkan kita yakin bahwa kalau mesin dinyalakan, kemudian persneling dipasang maka mobil akan bergerak ke arah yang kita inginkan.  Putusnya konektor bisa membuat mesin tidak menyala, atau mesin menyala tetapi mobil tidak dapat dijalankan.  Dan lain sebagainya.

Demikian juga dalam aliran aktivitas kita.  Integrasi yang baik akan menyebabkan kita memahami arah yang akan dituju (direction) dan setiap kali kita memutuskan untuk melakukan sesuatu hal yang penting, yang berarti kita memasukan hal tersebut ke dalam komitmen kita, maka ia akan menjadi prioritas dalam eksekusi sampai ia berhasil dilaksanakan.

Penting sekali untuk seseorang meyakini bahwa setiap komitmen yang telah ia tetapkan akan ia jalankan.  Untuk itu ia perlu benar-benar memilih komitmennya dan mempunyai mekanisme yang terintegrasi dalam mengeksekusi komitmen.

Pada sebagian orang rantai integrasi ini yang terputus sehingga ia mempunyai banyak dream yang ia masukan ke dalam komitmen tetapi tidak dieksekusinya.  Atau dia merasa yakin pada awalnya bahwa ia akan mengeksekusi hal tersebut tetapi ia tidak memiliki konsistensi yang dibutuhkan untuk dapat menjalankannya sampai tuntas.  Bila ini terjadi terus-menerus maka kredibilitasnya pada diri sendiri akan rendah.  Pada satu titik ia akan merasa tidak percaya diri sehingga membiarkan dirinya hanya mengikuti apa yang menyenangkan yang ingin dilakukan.

Mempunyai dream itu murah.  Berpikir dan berrencana ideal itu gampang.  Tetapi eksekusi untuk sampai terwujudnya hal-hal tersebut yang membedakan orang sukses dan bukan.  Kata kunci dalam eksekusi adalah konsistensi dalam pembentukan kebiasaan.  Di sini penting untuk membangun berbagai kebiasaan yang mendukung prioritas kita sehingga willpoweryang kita gunakan untuk hal tersebut semakin lama semakin kecil.  Menyetir pada saat awal kita belajar sangat melelahkan karena diperlukannya awareness yang tinggi untuk menginjak gas, rem, memindahkan persneling, melihat spion, dan lain sebagainya.  Tetapi ketika kebiasaan menyetir sudah terbentuk maka kita hanya memerlukan enerji yang rendah untuk bisa menjalankannya.  Bahkan kita bisa melakukannya sambil mengobrol atau mendengarkan lagu ataupun audiobook.

Integrasi diantara subproses kita bangun dengan membangun mekanisme dan sistem di dalamnya melalui pembentukan berbagai kebiasaan sehingga aliran aktivitas yang ada bisa berjalan dengan baik.  Sub proses ini terutama terkait dengan proses directing & executing yang akan kita bahas pada tulisan yang lain.

G. Suardhika

Trainer dari training Modern Time Management Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *