Mencapai level Master dalam Produktivitas Diri

Blogs

Edisi 45, Selasa, 2 Pebruari 2016

Crack under pressure.  Term ini menarik untuk menggambarkan cara melihat kualitas sebuah benda.  Berikan saja tekanan yang besar kepadanya, maka pada saat tekanan berapa, ia mengalami keretakan?

Kapan sebuah kemampuan produktivitas diri diuji dan ditingkatkan?  Seperti apa perilaku seseorang yang sampai ke level master dalam produktivitas diri?  Layaknya seorang atlit yang semakin lama menghadapi lawan yang semakin berat, maka dalam produktivitas diri, seseorang diuji kemampuannya ketika ia menghadapi tantangan produktivitas yang semakin berat.  Yaitu ketika demand dari lingkungannya semakin tinggi.

Tidak hanya beban kerja yang meningkat, tetapi juga kompleksitas permasalahan, diperlukan kemampuan untuk melihat secara strategik, kemampuan untuk menemukan hal penting, kemampuan untuk melakukan intervensi dengan minimax (minimal intervensi, maximal impact), dan lain-lain.  Bagaimana caranya agar tetap mencapai produktivitas kerja yang tinggi dalam situasi tersebut?

Gagal meningkatkan ketrampilan produktivitas diri kita maka kita akan masuk ke dalam berbagai situasi yang tidak mengenakan …..  Berhasil dalam hal itu, berarti kita dapat meningkatkan kemampuan produktivitas diri kita dan kita semakin nyaman dalam menghadapi tantangan yang semakin berat.  Paling tidak ada 3 kemungkinan outcome yang bisa dicapai seseorang dalam menghadapi demand yang tinggi tersebut.

Kelompok pertama, adalah mereka yang tidak berhasil menghadapi tekanan yang ada.  Mereka yang crack under pressure.  Dalam istilah Ned Hallowell di dalam bukunya Crazy Busy, overloadnya berubah menjadi overwhelmed.  Suatu kondisi psikis dimana kita merasa tenggelam dalam berbagai tuntutan pekerjaan.  Lalu yang tampil adalah seorang eksekutif yang tidak efektif, gagal memenuhi komitment dan tidak bisa menjadi link yang kuat dalam proses bisnis yang ada.

Kelompok kedua, adalah mereka yang berhasil mengikuti demand pekerjaan yang ada.  Artinya mereka bisa tetap menyelesaikan pekerjaan dan memenuhi tuntutan atasan dan koleganya.  Tetapi mereka bisa mencapai itu dengan cost yang besar.  Berupa cost social ataupun personal.  Social bisa berupa tim yang merasa tidak dihargai.  Personal bisa berupa stres yang berkepanjangan ataupun fisik yang sakit-sakitan.

Kelompok ketiga, tentunya adalah mereka yang berhasil mencapai tuntutan pekerjaan yang ada dan mencapainya dengan pemahaman bahwa apa yang dicapai lebih besar dari cost-nya.  Bukannya tidak ada cost dalam pencapainnya, tetapi ada proses sadar dalam memilih dan mengukur efek negatifnya, sehingga pada waktunya ia bisa me-recover efek negatif tersebut.

Misalnya, keluarga ditinggalkan selama beberapa minggu, tetapi itu hanya sementara karena kemudian ia mendapat cuti untuk bisa bersama keluarga.  Atau ekonomi yang pas-pasan karena sekolah lagi, tetapi kemudian di-recover setelah lulus dari program S2 nya.

Tampilan dari kelompok ini adalah orang yang terlihat bekerja dengan efektif, tetapi bisa tetap menikmati aktivitasnya dan tetap tampil tenang walaupun dalam tekanan pekerjaan yang begitu tinggi.  Sehingga ia tidak melampiaskan rasa frustasinya pada orang lain.  Inilah level master dalam produktivitas diri.  Ambisius?  Bisa jadi.  Tapi bukan tidak mungkin.  Kita toh bisa menemukan pengusaha-pengusaha ataupun eksekutif ataupun profesi lainnya, dengan banyak perusahaan yang dikelola ataupun jadwal yang begitu padat tetapi tetap bisa menikmati hidupnya.

Tentunya produktivitas perusahaan akan ikut meningkat bila karyawan-karyawannya bisa mencapai produktivitas kerja setinggi itu.

G. Suardhika

Trainer dari Training Modern Time Management Jakarta