Mencari sumber Percaya Diri: Self acceptance atau achievement?

Comment

Blogs

Edisi 167, Selasa 22 Agustus 2017

Pada awalnya saya percaya pada jalur pembentukan kepercayaan diri yang ini: self understanding -> achievement  -> acceptance  -> confidence.  Percaya diri itu muncul dari pemahaman sesorang akan kemampuan dirinya, kemudian menggunakannya untuk mencapai prestasi optimal.

Kemudian, dengan bertambahnya pemahaman saya, saya merasa model ini memerlukan terpenuhinya sebuah syarat: seorang perlu bisa mencapai prestasi tertentu dulu sebelum bisa mengembangkan kepercayaan dirinya.  Mengikuti alur logika yang sama, ketika seorang sedang tidak mencapai prestasi yang baik, maka sudah sewajarnya ia tidak percaya diri dan tidak bisa menerima dirinya dengan baik.

Bayangkan seorang atlet yang tengah tidak berada pada form terbaiknya, baik karena cedera ataupun karena stamina yang mulai menurun karena faktor usia.  Dengan menggunakan model ini maka ketika ia tengah terus-menerus gagal, ia merasa rendahnya kepercayaan diri itu sebagai suatu konsekuensi yang logis saja.

Karena itu kemudian saya mencoba mengubah model ini, menjadi self acceptance -> understanding  -> confidence -> achievement.  Meletakan penerimaan diri di depan, mensyaratkan kita untuk memulai dengan menerima diri sendiri (self unconditional love), bahkan sebelum kita memahami dengan baik diri kita.

Model pertama menimbulkan self conditional love.  Hanya ketika kita berprestasi kita bisa menerima dan mencintai diri kita.  Model kedua memulai dengan syukur.  Dalam model kedua, kekuatan kita justru muncul ketika kita bersyukur.  Menerima diri kita, memahaminya dan akhirnya mengandalkan kekuatan diri kita untuk mencapai prestasi optimal.

Pertanyaan yang muncul di antara pembaca terhadap model terakhir ini, kemungkinan ini:  Bagaimana kita akan mendapatkan kemampuan untuk mendorong diri kita lebih baik bila kita sudah menerima diri kita.

Terus terang saya juga masih mendalami terus pemahaman saya akan model ini.  Apa kelebihan dan kekurangannya dibanding model yang sebelumnya.  Model ini tepat secara filosofis, tetapi mungkin lemah secara pragmatis.

Banyak orang yang menggunakan enerji ‘kekurangan diri’ untuk mendorong dia berprestasi optimal.  Bahkan cenderung menjadi obses.  Orang yang takut gagal, akan mendorong dia dengan lebih kuat untuk berhasil.  Namun sumber enerji negatif ini biasanya menimbulkan fokus yang berlebihan terhadap prestasi sehingga mengorbankan aspek lain dari diri dan kehidupan kita.

Model pertama akan lebih sulit diterima pada orang yang secara objektif berada dalam kondisi kekurangan dibanding yang lain.  Dan lebih sulit diterapkan ketika kita sudah tua.  Sebab pada saat itu kita perlu mulai lebih bisa menerima keterbatasan dan melakukan yang terbaik dengan mengandalkan apa yang ada pada diri kita.

Karenanya menggunakan model yang kedua memiliki side effect yang lebih kecil.  Namun, kita perlu punya kemampuan terus-menerus membangun enerji dari dalam diri kita.

Enerji itu bisa bersumber dari alasan spiritual-religous (sebagai bagian dari ibadah ataupun sebagai ucapan syukur), keluarga ataupun diri sendiri: ingin terus mengembangkan diri untuk mencapai best self kita.  Apakah ini cukup untuk sumber enerji?  Perlu waktu untuk membuktikan hal ini.  Namun melihat efek negatif dari model pertama, tampaknya lebih bijak untuk memilih model kedua.  Bagaimana menurut Anda?

G. Suardhika

Trainer dari training Modern Time Management Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *