Mengapa DA bisa membuat frustasi?

Comment

Blogs

Edisi 191, 2 Januari 2017

DA berfungsi untuk mengarahkan fokus kita, sehingga dalam aktivitas sehari-hari kita dapat melaksanakan berbagai prioritas kita dengan baik.  Namun, kenapa dalam kasus Joni dan berbagai kasus lainnya, DA malah membuat kita menjadi frustasi dan akhirnya tidak membantu produktivitas kita?  Berikut beberapa faktor utama yang bisa mempengaruhi.

DA merefleksikan kondisi seseorang.  DA yang dibuat dari orang yang memiliki banyak keinginan dan sulit memfokuskan keinginannya, akan cenderung berisi banyak item yang tidak fokus dan membingungkan.

Seseorang kadang memulai hari dengan semangat tinggi dan membuat DA yang banyak karena merasa yakin ia dapat menyelesaikannya.  Membayangkan bahwa kita bisa mencapai banyak hal dalam suatu hari tentunya menyenangkan.  Sayangnya kita terlalu mudah untuk menyerah begitu kita menemukan berbagai kesulitan saat mengeksekusinya, kita terlalu mudah men-discount ambisi tersebut, sehingga hari yang dijalani tidak begitu produktif karena fokus yang tidak jelas.

Membuat DA dengan kemampuan melihat hari dengan realistis namun tetap stretching (berusaha mengoptimalkan hari) diperlukan agar gap dalam merealisasikan DA tidak terlalu jauh.  Dengan cara itu kenikmatan menjalankan aktivitas (engagement) dan merasa puas ketika mengevaluasinya, bisa diperoleh.

Sementara itu terlalu semangat membuat DA yang lengkap dan ideal, lalu menyalahkan diri sendiri di malam hari membawa kita pada lingkaran ‘membenci diri’ yang tidak sehat.  Bahkan pada satu titik bisa menimbulkan ketidakpercayaan akan kemampuan diri, karena kita merasa tidak pernah berhasil mengeksekusi DA kita dengan baik.

Faktor lain yang dapat menyebabkan seseorang merasa frustasi ketika mengelola DA adalah kekurangmampuan untuk memperkirakan waktu yang tersedia untuk mengeksekusi DA tersebut.  Waktu yang tersedia untuk DA adalah ‘sisa’ waktu setelah kita melakukan aktivitas rutin dan banyaknya interupsi yang ada.  Bila kita dapat memperkirakan dengan baik berapa waktu tersisa tersebut dan berapa waktu yang diperlukan untuk setiap aktivitas maka kita akan mempunyai DA yang lebih realistis.

Menemukan titik yang seimbang antara semangat/ambisi dan realitas merupakan kunci untuk membuat perencanaan dan eksekusi DA yang optimal.

G. Suardhika

Trainer dari training Modern Time Management Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *