Mengelola Hulu: Apa yang memproduksi Aktivitas?

Comment

Blogs

Edisi 197, 13 Pebruari 2018

Apa yang dilakukan sebagian besar dari kita ketika menghadapi overload?  Bekerja lebih banyak dan lebih lama dengan asumsi bahwa memperbanyak jam kerja akan membuat kita dapat mengejar ketinggalan kita.

Selain menambah jumlah jam lembur, orang akan cenderung untuk memikirkan berbagai short cut, menggabungkan berbagai kegiatan: mengasuh anak sambil mengerjakan pekerjaan kantor, misalnya.  Ataupun berolah raga sambil mendengarkan materi yang perlu kita pelajari.  Atau berbagai cara lainnya.  Namun semua trik di atas sebetulnya hanya fokus pada mengatasi permasalahan di hilir.  Tanpa kita mengendalikan hulunya, sumber dari berbagai aktivitas tersebut, bagaimana kita dapat mengembangkan pola kerja dan hidup yang terkendali?

Sebagian orang karena sudah begitu lama berada dalam situasi tersebut, lalu merasa tidak berdaya.  Merasa sudah sewajarnya yang namanya kerja memang akan selalu mengalami situasi overload, stres dan dikejar-kejar pekerjaan.  Sebetulnya permasalahan dapat dilihat dengan lebih baik bila dalam upaya mengatasi besarnya beban kerja yang ada, kita mengajukan pertanyaan ‘apa yang memproduksi aktivitas kita?’  dengan kata lain apa yang terjadi di hulu aktivitas kita sehingga kita mengalami hilir yang seperti ini?

Aktivitas adalah hasil dinamika antara keinginan dan tuntutan lingkungan.  Keinginan untuk memiliki dan mencapai berbagai hal akan mempengaruhi loading kita.  Lebih jauh lagi sebetulnya tuntutan lingkungan juga berasal dari pilihan-pilihan kita.  Tuntutan dari tempat kita kerja berasal dari pilihan kita untuk bekerja di sana.  Tuntutan dari keluarga kita berasal dari pilihan kita untuk menikah.  Dengan demikian pada esensinya yang memperoduksi aktivitas adalah keinginan dan pilihan kita.  Dengan demikian sebetulnya kita mempunyai otoritas yang besar untuk mengendalikan beban kerja tersebut.

Contoh yang lain adalah keinginan untuk sukses di tempat kerja atau bahkan keinginan wirausaha.  Setiap pilihan tersebut jelas mempunyai resiko akan bertambahnya overload kita.   Karenanya penting sekali pada setiap pilihan tersebut kita tahu dengan baik konsekuensi loading yang akan kita hadapi.  Melanjutkan kuliah lagi, misalnya mempunyai konsekuensi jumlah jam tertentu dalam jangka waktu tertentu sampai kita menyelesaikan pendidikan kita.  Bahkan sebuah relasi yang baik dengan keluarga juga memerlukan komitmen jam dan enerji tertentu.

Pendekatan Manajemen Waktu (MW)  pada umumnya hanya concern dengan pengelolaan aktivitas di hilir.  Yaitu bagaimana menghilangkan time waster sehingga lebih banyak waktu digunakan untuk aktivitas-aktivitas penting.  MW tidak berusaha menangkap apa yang menyebabkan banyaknya aktivitas tersebut dan apa yang menyebabkan kita kesulitan untuk mengendalikan berbagai aktivitas yang ada.

Ibarat terus membersihkan sampah yang ada di hilir tanpa berusaha mengatasi kotornya hulu kali tersebut.

G. Suardhika

Trainer dari training Modern Time Management Jakarta

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *