Moda Pleasure

Blogs

Edisi 25, Selasa, 24 November 2015

Ketika badai telah lewat, dan matahari terlihat di ufuk dengan sinar yang cerah, maka rasanya kita hanya ingin bersantai di geladak dan menikmati pemandangan yang indah.  Menerjang badai memang menghasilkan trauma, tidak heran, kita seringkali hanya ingin settle dengan situasi yang nyaman karena kita tahu bahwa situasi bisa lebih buruk.

Manusia mempunyai kecenderungan untuk mengingat hal negatif jauh lebih kuat daripada hal positif.  Demikian juga, dorongan untuk melindungi diri dari hal negatif jauh lebih kuat daripada meningkatkan hal positif.  Lagipula siapa yang tidak suka menikmati indahnya pemandangan dan desir angin.  Kalau itu bisa dinikmati selama mungkin kenapa juga harus berpikir mengenai produktivitas diri?

Ketika kita sudah bisa lebih menikmati kerja kita, bisa menikmati relasi sosial yang ada, maka sangat mudah bagi kita untuk merasa bahwa kita sudah on the right track.  Padahal rasa nyaman kita sama sekali tidak terkait dengan apakah kita sudah produktif atau tidak.

Bisa menyelesaikan pekerjaan, belum berarti kita telah memberikan kontribusi optimal bagi organisasi.  Dihargai rekan-rekan di perusahaan, belum berarti kita berada di track karir yang tepat.  Semua hal tersebut baru memberikan rasa nyaman saja, baru menunjukan bahwa kita sudah masuk di moda pleasure.  Kita sudah di comfort zone.

Moda pleasure ditandai dengan orientasi pada kenyamanan dan kesenangan.  Kenyamanan dan kesenangan yang ingin diraih cenderung berupa kenyamanan yang pasif, yang diantaranya berupa perilaku konsumtif ataupun entertainment.

Ciri dari orang yang berada di moda pleasure adalah progress lebih didefinisikan dalam konteks penghasilan dan gaya hidup.  Bila setiap tahun kita bisa memperluas rumah atau menambah mobil atau mengganti mobil dengan yang lebih baik, maka ‘we are on track’.

Karena orientasi pada kenyamanan, maka kecenderungan kelompok ini akan lebih mudah untuk menyerah ketika menghadapi kesulitan.  Mereka memilih bisnis yang dapat memberikan penghasilan yang cepat.  Tidak betah pada bisnis yang memerlukan proses untuk membangun bisnis dalam jangka panjang.

Masalah baru muncul ketika badai menerjang dan kita mengalami kesulitan untuk mencari pekerjaan yang kita inginkan ataupun untuk mengatasi kesulitan yang ditawarkan oleh hidup.

Memasang moda pleasure dalam hidup kita, tentunya diperlukan.  Tetapi ketika itu menjadi fokus dari kehidupan kita, maka kita hanya memperkuat ‘otot’ yang salah.  Ibarat petinju yang memilih tidak berlatih tanding karena takut cidera.  Ia memperkuat otot untuk menghindari latihan (‘otot’ excuses) daripada memperkuat otot-ototnya demi menghadapi pertandingan yang pasti akan datang.

G. Suardhika

Trainer dari Training Modern Time Management Jakarta