Moda Survival

Blogs

Edisi 23, Selasa, 17 November 2015

Ketika bangun pagi terasa berat banget.  Hidup dijalani dengan lebih banyak harus daripada ingin.  Semua terasa sebagai perjuangan.  Perjuangan melalui trafik yang padat, sampai ke perjuangan menghindari marahnya bos.  Maka bisa jadi kita berada dalam moda survival.

Goal dari moda survival adalah dapat melewati hari dengan ‘selamat’.  Ibarat kita masuk hutan dengan banyak binatang buas.  Maka emosi kita  didominasi rasa khawatir dan was-was.  Kita selalu alert terhadap berbagai bahaya yang bisa datang.  Dan baru merasa lega ketika sudah melewati daerah berbahaya tersebut.

Sekali-sekali kita mengalami situasi tersebut, tentu tidak masalah.  Yang masalah adalah bila kita terus-menerus mengalami situasi tersebut.  Karena pada saat itulah kita mengalami stres berkepanjangan yang bisa berujung pada depresi.

Dari berbagai faktor yang menjadi penyebab, marilah kita fokus pada 2 hal berikut ini.  Pertama, kita tidak berada pada pekerjaan yang seuai dengan minat, kemampuan dan purpose yang ingin kita capai.  Yang kedua adalah ketidakmampuan kita mengelola berbagai faktor negatif yang ada di lingkungan kita.

Faktor pertama terkait dengan matching antara minat, kemampuan dan purpose kita dengan pekerjaan yang kita jalani.  Meng-‘kreasi’ pekerjaan yang sesuai dengan minat, kemampuan dan purpose kita adalah sebuah proses yang panjang.  Seringkali kita perlu mencoba berbagai hal dulu sebelum kita dapat mengenali minat kita.  Sementara itu, purpose hanya bisa kita lihat dengan jernih setelah melalui proses pengenalan diri dan refleksi diri yang dalam.

Namun, bila kita berhasil melakukan matching tersebut, maka pekerjaan kita semudah bersepeda di jalan yang menurun, kita tidak perlu mengayuh, kita hanya perlu mengendalikan sepeda dan menginjak rem.  Sebaliknya bila pekerjaan kita tidak matching, maka kita perlu berupaya keras untuk hanya sekedar memulai mengerjakannya.

Faktor kedua terkait dengan faktor negatif lingkungan.  Bisa berupa Atasan yang pola kerjanya tidak baik dan memperlakukan tim nya hanya sekedar ‘alat’ saja.  Organisasi yang tidak berorientasi kinerja.  Lebih jauh lagi, tekanan yang tinggi di dalam organisasi untuk mencapai hasil yang tidak masuk akal.  Kesemuanya itu membuat orang berusaha menyelamatkan dirinya masing-masing.

Sulit bagi seseorang mencapai moda produktif-nya, bila pendekatannya terhadap kerja masih didominasi moda survival.  Ibarat orang baru belajar berenang, ia perlu menguasai ketrampilan mengapung untuk lebih fokus pada terus meningkatkan kemampuan berenangnya.  Ketika ia merasa berada dalam situasi terancam akan tenggelam (survival), maka ia akan melakukan berbagai hal untuk menyelamatkan diri.

Lalu bagaimana cara agar seorang bisa melewati situasi tidak mengenakan ini?  Kita perlu mengatasi gap kemampuan, gap pemahaman terhadap situasi yang ada, dan gap dalam kematangan diri yang dibutuhkan agar kita tidak panik dan percaya bahwa kita bisa melewatinya dengan baik.

Moda survival kadang memang membuat kita merasa seperti berada di lorong goa yang gelap dan tidak berujung, dalam situasi tersebut, satu-satunya tip adalah tetap berjalan sambil terus mencari cara untuk menemukan jalan keluarnya.

G. Suardhika

Trainer dari Training Modern Time Management Jakarta