Model MPD 3b: Executing: Antara Be & Do

Comment

Blogs

Edisi 207, 17 April 2018

Perspektif penting yang lain dalam mengelola hari adalah perspektif Being & DoingBeing adalah sebuah proses mengenal dan mengekspresikan diri.  Kemampuan untuk mengekspresikan diri dengan baik sehingga orang lain memahami dan menerima kita.  Untuk dapat melakukan itu, seseorang perlu mengenali dirinya dan memiliki keberanian untuk tampil sesuai jati dirinya.  Proses being yang berjalan dengan baik akan membuat kita merasa nyaman dengan diri kita dan dengan interaksi kita dengan orang lain.

Dalam proses being, ekspresi diri, sebaiknya diikuti dengan apresiasi terhadap jati diri orang lain.  Apresiasi membutuhkan kemampuan untuk bisa mengenali, memahami dan menerima being orang lain, sehingga orang tersebut juga nyaman ketika berinteraksi dengan kita karena diterima ‘apa adanya’.  Integritas dan konsistensi dalam perilaku berasal dari proses being yang baik.  Kalau Anda menemui orang yang susah anda tebak karena minimnya integrasi dan konsistensi tindakan dari satu situasi ke situasi lainnya, maka orang tersebut belum berada dalam level being yang baik.

Kemampuan untuk being adalah syarat bagi diperolehnya akses optimal pada seluruh aspek diri kita.  Kita bisa saja mempunyai rencana yang baik, dan disiplin dalam melakukannya (doing), namun kita melakukannya dengan bayangan kekhawatiran akan hasil yang kurang baik atau bayangan akan marahnya Bos, maka kerja kita sulit untuk mencapai optimal karena kita akan kesulitan untuk mengakses semua kemampuan yang ada pada diri kita pada saat tersebut.  Doing baru akan optimal kalau ia berangkat dari proses being yang baik.

Flow yang merupakan puncak dari keterlibatan dalam suatu aktivitas juga sulit untuk dicapai bila orang terlalu aware akan setiap langkahnya.  Ia perlu mempunyai cukup percaya diri dan fokus pada tantangan yang ada di depannya untuk bisa mencapai flow.

Pasangan moda lain yang perlu mendapat perhatian kita juga pada saat executing adalah experiencing dan performing.  Seseorang berada dalam moda performing bila ia sedang berusaha mencapai target tertentu.  Performing tentu baik karena mengarahkan fokus kita.  Tetapi pada saat-saat tertentu kita juga perlu mengubah moda kita ke experiencing: proses menikmati moment yang ada di hadapan kita.

Dua moda ini pertama kali saya pahami ketika saya membaca salah satu buku karya Peter Bregman (Bab 11, Four Seconds (http://produktivitasdiri.co.id/four-seconds-by-peter-bregman-2015-recommended-book/#more-335).  Ia menceritakan pada awalnya, ia mempersiapkan pernikahan dengan maksud performing, sehingga semua hal ingin diatur secara detail dan perfect.  Namun kemudian ia menyadari bahwa setelah semua direncanakan dengan optimal, maka yang penting sebetulnya adalah experiencing, sehingga kita tidak memaki terhadap berbagai kesalahan yang merupakan bagian dari ketidaksempurnaan manusia, tetapi kita bisa menerimanya, bahkan menikmatinya dengan tertawa.  Kebanyakan kenangan yang indah tidak datang dari sebuah peritiwa yang sempurna, ia justru berasal dari sebuah kesalahan yang manusiawi yang membuat kita tertawa ketika mengingatnya.

Demikianlah, pada saat mengeksekusi sebuah rencana kita perlu menjaga diri agar tidak terus-menerus berada di moda performing dan doing, tetapi kadang perlu memastikan kita tetap berada di proses being dan menyerap serta menikmati berbagai pengalaman yang terjadi di depan kita.

G. Suardhika

Trainer dari training Modern Time Management Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *