MPD at Work : Mengelola overload

Selamat Datang

Salam Produktif,

Rasanya aneh kalau kita membahas produktivitas di tempat kerja (MPD at work), tanpa membahas satu kata ini: overload.  Kerja sering diasosiasikan dengan pengorbanan, pusing, stres, beban dan lelah.  Kambing hitam dari semua itu adalah beban kerja yang berlebih.  Atau, simply said, overload.

Overload hampir-hampir menjadi tradisi bagi setiap karyawan.  Belum kerja rasanya kalau belum merasakan beban kerja yang berlebih.  Di tempat kerja, beban bisa dilihat dari segi kuantitas, bisa juga dilihat dari segi waktu, ketatnya deadline.  Pada umumnya, overload dirasakan seseorang lebih pada ketatnya deadline daripada kuantitas.  Seseorang lebih bisa mengelola beban kerja, sepanjang ada fleksibilitas waktu dan deadline.  Tetapi tekanan deadline pada banyak pekerjaan pada saat bersamaan dan terus-menerus akan menimbulkan stres berkepanjangan.

Mengapa overload sangat lekat dengan corporate life? Saya hanya bisa menduga begini:  perusahaan berada di tengah persaingan yang ketat.  Salah satu kunci untuk memenangkan persaingan adalah optimasi dan efisensi.  Termasuk di dalamnya, optimasi SDM sampai ke batas maksimalnya.  Istilahnya sampai ke limit orang tersebut, sampai ia hampir mengalami breakdown.

Overload kemudian menjadi alasan utama yang kita pakai ketika membahas kegagalan kita menyelesaikan berbagai pekerjaan kita.  Apakah benar, kita sudah overload?  Bagaimana kita membedakan mana fake overload dan real overload?  Hal-hal tersebut yang akan kita bahas pada seri ini.  Kita juga akan membahas mengenai tirani urgency, kemampuan membuat prioritas antara pekerjaan penting dan tidak, serta bagaimana menjaga agar overload tidak berubah menjadi overwhelm?

Isi dari seri tulisan ini adalah