Office Politics

Comment

Blogs

Edisi 251, 15 Januari 2019

Rahasia umum yang jarang diperbincangkan terkait organisasi bisa jadi ini: hal utama yang membuat orang lelah di kantor bukan pekerjaan itu sendiri, tetapi politik kantor yang ada di organisasi tersebut.  Yang saya maksud adalah ini: mis koordinasi, saling membenci dan mengalahkan, relasi yang tidak nyaman dan bersaing secara tidak sehat. 

Tidak percaya?  Coba bayangkan ini: Anda melakukan pekerjaan Anda sekarang dengan tim yang kompeten, kolega yang helpfull, atasan yang mempercayai dan memberikan dukungan.  Seberpa menyenangkan dan mudah pekerjaan Anda?

Untuk kepentingan artikel ini dan artikel terkait lainnya di blog ini, mari kita sepakati dulu bahwa yang dinamakan politik kantor adalah ‘pertempuran power yang dilakukan untuk kepentingan perorangan dan bukan organisasi’.

Setiap orang masuk ke dalam organisasi tentu membawa agenda pribadi.  Tidak ada yang salah dengan hal ini.  Yang salah kemudian adalah bila setiap orang merasa bahwa bekerja dengan optimal untuk kepentingan organisasi tidak cukup untuk membuat agenda pribadinya dipenuhi.  Yang salah adalah bila karyawan merasa lebih penting untuk bermain politik kantor daripada mencapai kinerja optimal.

Pada saat itu, organisasi menjadi sebuah arena pertarungan bebas dimana setiap orang berusaha mendapatkan kekuasaan sebesar mungkin dan membentuk kelompok diantara mereka untuk mencapai kemenangan (baca: penguasaan perusahaan secara internal) menjadi sah saja.  Akhirnya enerji lebih banyak habis untuk pertempuran power daripada untuk memajukan organisasi.

Organisasi menjadi arena bagi setiap orang untuk membela kepentingannya.  Survival of the fittest, siapa yang paling kuat yang menang sering dipertontonkan dari satu rapat ke rapat lainnya.  Rapat lebih sering diisi persetujuan dan pujian terhadap orang yang memiliki power bukan perdebatan untuk memastikan keputusan yang optimal buat organisasi.

Penyebab dari terjadinya hal tersebut biasanya adalah tidak cukup disuntikannya semangat dan etika profesionalisme ke dalam organisasi,  (mengenai etika profesional ini bisa dibaca di rangkaian tulisan saya yang lain di sini(http://gsuardhika.com/2018/01/31/profesionalisme-pengantar/)).  Terutama terkait dengan penghargaan terhadap kinerja, transparansi dan objektivitas dalam penilaian kinerja, penghargaan terhadap sistem dan aturan main yang ada.

Bila hal ini terjadi maka sulit untuk mengharapkan organisasi bisa mencapai prestasi terbaiknya, bahkan jangan-jangan malah kematian organisasi tinggal menunggu waktu saja.  Pilihan untuk menjadi organisasi yang profesional, bukan sekedar permasalahan gengsi, tetapi sebuah keharusan bila kita ingin mempunyai organisasi yang hidup dalam jangka panjang. Komitmen pendiri, pemilik dan direksi akan sangat menentukan di sini.

G. Suardhika

Trainer dari training Modern Time Management Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *