Overload yang sia-sia

Blogs

Edisi 58, Jumat, 18 Maret 2016

Optimasi SDM dianggap sebagai salah satu kunci dalam memenangkan persaingan yang semakin ketat.  Dan salah satu cara untuk mencapinya adalah mendorong kapasitas SDM yang ada sampai ke limit-nya.  Pertanyaan pentingnya sebetulnya ini: apakah kita mengalami overload pada aspek yang benar?

Setiap karyawan bekerja sesuai dengan disain jabatannya, fokusnya (KPI) dan shaping yang dilakukan oleh atasannya.  Disain itu yang akan menentukan profile karyawan yang akan direkruit dan apa yang diharapkan dari karyawan tersebut.  Kemudian, pressure diberikan manajemen untuk memenuhi desain tersebut.  Masalah utamanya justru timbul di sini, ternyata disain organisasi yang disiapkan bukan sebuah disain yang optimal.

Disain organisasi yang baik (dan juga kepemimpinan yang baik) akan mempunyai kejelasan mengenai apa yang optimal yang diperlukan organisasi dan mendorong keterlibatan yang optimal dari setiap orangnya.  Setiap orang hanya optimal sesuai dengan disain tersebut.  Sementara setiap disain hanya optimal sesuai dengan pemahaman Manajemen tentang kinerja yang diharapkan.  Maka inilah sebetulnya kemampuan yang paling penting yang akan mendorong ke arah limit yang benar.

Tanpa pemahaman yang baik, maka disain dan kepemimpinan akan menjadi tidak optimal.  Tanpa disain yang optimal maka sebetulnya kita tengah mendorong limit setiap orang bukan pada area yang tepat.  Sehingga yang dihasilkan adalah suboptimasi.

Situasi ini bisa diibaratkan dengan kondisi berikut.  Ada jalan lewat tol dari Jakarta ke Bandung, tetapi ada juga jalan yang memutar, berbatuan dan sempit sehingga banyak menimbulkan kemacetan.  Tanpa pemahaman yang baik mengenai peta jakarta bandung, seorang sopir yang baik akan menyia-nyiakan potensinya untuk bekerja ‘mati-matian’ menempuh jalan yang salah.  Sementara itu, sopir yang lain, bisa dengan santai dengan kecepatan yang aman menempuh jalan tol.  Si sopir pertama mengalami overload yang sia-sia.

Atau, sebuah ilustrasi yang lain.  Ibarat sebuah pesawat terbang, yang hanya dipacu sekencangnya di darat, karena sang pilot (sang disainer organisasi) mengira bahwa pesawat itu hanya memiliki kemampuan mobil.

Dengan demikian, penting bagi Manajemen untuk memahami dua hal, sebelum mendorong SDM ke limitnya.  Pertama, apakah disain organisasi yang menentukan peran setiap orang sudah optimal.  Kedua, apakah pemimpin yang ada memahami cara memilih dan mengembangkan tim yang ada.

Tidak asing bagi saya, dari satu pelatihan ke pelatihan lain, menemukan peserta yang merasa lelah, kecapaian, bahkan frustasi, karena merasakan overload, tetapi sebetulnya overload yang sia-sia.  Yang datang dari disain organisasi yang salah, atau yang datang dari miskoordinasi.

Disinilah terjadi pemandangan yang menyedihkan.  Ketika setiap orang mengoptimalkan kinerjanya, namun yang terjadi adalah kelelahan yang tidak perlu.  Indikatornya bisa jadi ini.  Ketika Anda kelelahan sampai di rumah dan anda tidak yakin bahwa apa yang anda lakukan itu benar bermanfaat atau tidak.  Apakah kita benar-benar kerja, atau sekedar bermain politik atau pleasing the boz, atau bahkan saling me-negasi-kan antara kerja satu departemen dengan departemen lainnya.

Jadi apakah mereka overload?  Iya.  Tetapi the wrong kind of overload.  Tidak aneh bila organisasi tidak mencapai produktivitas optimalnya.

G. Suardhika

Trainer dari Training Modern Time Management Jakarta