Pada Suatu Siang

Comment

Blogs

Edisi 169, Selasa 29 Agustus 2017

Hari ini begitu terik, Waldi sudah sampai di spot tempat ia akan bertemu dengan koleganya.  Lima menit lebih awal dari waktunya.  Waldi bangga dengan reputasinya sebagai orang yang selalu tepat waktu.  Sangat jarang ia terlambat lebih dari 10 menit kalau bukan suatu alasan yang di luar kendalinya.  Force majeur, begitu istilah orang legal.

Lima menit lewat dari W Waktu.  Waldi mulai khawatir dengan reputasi Didik sebagai orang yang sering terlambat.  Ketika mau berangkat sempat terpikir olehnya untuk kali ini tidak perlu tepat waktu.  Tetapi kebiasaan dia untuk tepat waktu membuatnya merasa tidak nyaman, bahkan untuk berpikir mengenai rencana itu.

15 menit berlalu dari W Waktu.   Mulai ada perasaan menyesal memilih spot menunggu di sini.  Spot ini memang yang paling strategis karena terletak di persimpangan ke arah yang dituju.  Tetapi tidak ada restoran di dekat sini dan hanya sebuah pohon rindang tempatnya dan belasan orang lain termasuk sopir ojek on line menunggu.  Rasanya ia ingin menelepon Didik, tetapi ia segera membatalkan karena teringat dengan reputasinya yang lain sebagai seorang penyabar.  Waldi hanya sanggup membuka wa dan mengetik, ‘sudah dimana?’.

30 menit berlalu kegelisahan makin meningkat. Tidak ada balasan pada WA.  WA tidak dibaca padahal kondisinya ‘on line’ yang berarti Didik sedang membuka WA.  Setengah jam ini Waldi memang mengisi waktu dengan membaca WA dan browsing, tetapi rasanya sudah mulai bosan.  Apalagi melakukan hal tersebut dengan posisi berdiri di tengah kebisingan dan debu yang ada.  Waldi teringat dengan jam meetingnya yang sudah semakin dekat dan bisa jadi Anda terlambat sampai kesana.  Waldi  membuka WA dan belum juga ada pesan dari kolega Anda tersebut.  Sambil menahan kekesalan, Waldi akhirnya menelepon Didik.

Ilustrasi di atas, ingin menunjukan pergerakan emosi seseorang dari kondisi tenang ke sebuah perasaan tidak nyaman.  Perasaan itu ada karena rasa kesal yang muncul karena diperlakukan tidak baik oleh rekan kerja Anda.  Self awareness membawa kita memonitor munculnya perasaan tersebut, menerimanya dan memilih tindakan yang paling efektif untuk mengatasi masalah yang ada dan pada saat yang bersamaan me-respond rasa kesal tersebut.

Bila self awareness seseorang tidak berfungsi dengan baik, maka rasa kesal itu muncul tanpa disadari dan tahu-tahu sudah cukup besar menjadi sebuah kemarahan.  Bila Didik, misalnya adalah atasan Waldi yang tidak mungkin menjadi pelampiasan rasa kesal, maka kemarahan itu bisa mendominasi selama beberapa saat mencari pelampiasan yang lain.

Ekspresi emosi yang tidak proporsional bisa juga muncul karena kita berpura-pura untuk tampil baik dengan menyimpan terus kekecewaan demi kekecewaan yang akhirnya melelahkan kita sendiri.  Mengenali dan mengelola emosi juga berarti berani untuk tampil adanya.  Mengekspresikan diri kita secara terkendali.  Begitulah peran self awareness.

G. Suardhika

Trainer dari training Modern Time Management Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *