Pasukan Tempur dan Peran Manajemen Madya

Edisi 252, 22 Januari 2019

Bayangkan bila Anda diminta untuk memimpin satu peleton pasukan yang ditugaskan untuk maju ke garis depan pertempuran.  Anda memimpin seratusan anggota yang siap bertempur.  Namun dalam perjalanan anda ke medan tempur, Anda menemukan konflik penugasan, Jenderal A meminta Anda mempertahankan area A, jenderal B meminta Anda bergerak ke area B untuk menyerang pasukan lawan yang ada di sana.

Kepusingan Anda bertambah lagi ketika Anda menemukan bahwa amunisi yang disediakan terbatas dan ada bagian pasukan yang ternyata tidak menguasai cara menggunakan senjata yang ada karena ia dilatih dengan senjata yang berbeda.

Namun, dengan tekad kuat, Anda tetap melanjutkan perjalanan Anda, dengan memilih bergerak ke A, walaupun Anda dimarahi oleh B.  Menurut Pembaca, seberapa besar peluang pasukan untuk bisa menjalankan tugasnya dengan baik?

Kita akan merasa aneh ketika mendengar kisah di atas karena dengan sistem komando yang ada, organisasi militer merupakan salah satu organisasi terbaik yang ada dalam hal pengkoordinasian.  Bila kita merasa asing itu terjadi pada sebuah organisasi militer, kita merasa hal itu sangat wajar terjadi pada organisasi lainnya.

Para supervisor pemimpin pasukan di lapangan seringkali mendapatkan perintah yang membingungkan mengenai prioritas pekerjaan mereka.  Otoritas yang mereka miliki untuk mengeksekusi terbatas.  Dan tim yang ada mempunyai kemampuan seadanya.  Lebih buruk lagi, manajemen madya (atasan mereka) tidak berada pada posisi mendukung mereka, tetapi sibuk memenuhi harapan top manajemen karena hanya dengan cara itulah mereka dapat mengamankan posisi mereka. Akibatnya di area ‘pertempuran’, area moments of truth dalam organisasi, kita menemukan para front liners yang frustasi, customer yang kecewa dan supervisor ataupun tim leader yang kebingungan.  Memang sekilas kita merasa, nyawa bukan taruhannya.  Tetapi bila hal itu terjadi dalam jangka panjang, kelelahan dan frustasi juga bisa berujung pada sakit fatal yang berarti nyawa juga yang dipertaruhkan…  Bila kita organisasi militer bisa menghindari itu, mengapa organisasi lainya tidak bisa?  Paling tidak mengurangi secara signifikan kekisruhan yang mungkin terjadi di para ujung tombak kita.  Sehingga operasional bisa berjalan lancar dan customer puas.

G. Suardhika

Trainer dari training Modern Time Management Jakarta

Leave a Reply

Close Menu