Pengelolaan Border

Pengelolaan Border

Edisi 297, 19 November 2019

Pada setiap hubungan antar 2 orang terdapat apa yang disebut garis batas psikologis.  Pada orang yang cenderung mementingkan diri sendiri, maka ia akan berupaya untuk mendorong Border psikologis ke relasinya sehingga ia mendapatkan ruangan yang lebih besar dan nyaman, tanpa perduli yang lain merasa ‘sesak’.

Seorang Atasan mendelegasikan sebanyak mungkin pekerjaan kepada bawahannya yang bisa diandalkan, sehingga ia merasa lebih bisa menikmati harinya.  Ini berarti ia tengah mendorong border tersebut ke staf tertentu, tanpa perduli bahwa ada staf yang lain yang beban kerjanya ringan.  Ini sama saja menghukum karyawan yang rajin. 

Tidak hanya atasan yang bisa mendorong border pada bawahan.  Bawahan juga bisa melakukan hal tersebut, dengan cara bekerja minimal, dan kalau memungkinkan menolak permintaan atasan dengan alasan lagi banyak pekerjaan.

Kita mengatakan border itu berada di tengah, ketika tercapai win-win, ketika setiap pihak menanggung beban sesuai dengan tanggung jawabnya.  Menjadi profesional, salah satunya berarti menjaga border ini berada dalam posisi tersebut sehingga kita bisa membina sebuah relasi win-win yang efektif dalam jangka panjang.

Dalam diskusi dengan peserta pelatihan, ada peserta pelatihan yang mengembangkan sikap untuk selalu berusaha membantu Atasan setiap kali ia minta.  Ia merasa itulah profesional, berjuang habis-habisan untuk keperluan Atasan dan Organisasi.  Posisi ini terdengar indah bagi Atasan dan Organisasi, sayangnya tidak akan bertahan lama kalau tidak berlangsung 2 arah.  Artinya hanya bawahan yang berkorban, atasan dan manajemen hanya ‘memberi kesan’ berkorban.  Karena itu MPD mendasari profesionalisme dalam konteks memberikan kontribusi optimal dalam proporsi yang wajar.  Dalam arti tidak mengorbankan pekerjaan dan target yang sudah disepakati dan tidak mengabaikan tanggung jawab terhadap keluarga dan dirinya sendiri.

Atasan yang baik, perlu memahami bahwa dalam organisasi yang baik, setiap posisi mempunyai tugas, job desc, otoritas, tanggung jawab dan targetnya.  Tugas Atasan memastikan bahwa bawahan bisa mencapai hal tersebut.  Atasan boleh memberikan sebagian tugasnya atau tugas unitnya atau tugas baru atau bahkan tugas staf lain yang belum bisa ditangani pada staf tersebut kepada salah satu stafnya, tetapi ia perlu aware seberapa banyak hal tersebut mengganggu pencapaian target staf tersebut.  Menjadi tugas atasan untuk sensitif terhadap hal ini.  Bila ia tidak sensitif, maka tugas bawahan untuk bisa menjaga border dengan efektif.

Seseorang hanya diperlakukan sebagaimana ia membiarkan orang lain memperlakukannya.  Seorang profesional akan berusaha untuk membuat orang lain memperlakukannya dengan profesional.  Ini berarti menghargai kemanusiaannya dan kontribusinya. Pada setiap penugasan tentunya terdapat kesempatan untuk belajar dan membantu.  Namun bila kesempatan belajar itu mengganggu pencapaian target, maka berarti kita tidak meletakan prioritas pekerjaan kita dengan benar.  Kita tidak profesional.

G. Suardhika

Trainer dari training Modern Time Management Jakarta

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Close Menu
×

Hello!

Click one of our representatives below to chat on WhatsApp or send us an email to cs@produktivitasdiri.co.id

× Butuh info?