Pentingnya Intermittent (2)

Blogs

Edisi 97, Selasa 2 Agustus 2016

Work for your bread, not for your death’, ungkapan itu saya dengar beberapa waktu lalu dari seorang Bapak, kenalan saat jogging/jalan cepat di komplek sebelah.  Bapak ini, seorang pensiunan pengawai negeri sebuah Departemen, saat ini berusia 76 tahun, mendapatkan saran bijak tersebut dari dosennya ketika ia dikirim Pemerintah untuk belajar ke Swiss. Ayah dari 4 putri yang semuanya lulusan luar negeri dan 3 diantaranya saat ini bekerja di luar.

Sayangnya saat ini tidak banyak yang pernah mendengar nasehat bijak tersebut ataupun kalau toh mengetahuinya, tidak menerapkannya.  Adalah seorang CEO dari sebuah firma konsulting international papan atas yang kemudian merasakan akibat dari ketidakmampuan mengelola intermittent dalam karirnya.

“Kalender saya penuh terisi sampai 18 bulan ke depan.  Saya selalu bekerja.  Saya bekerja sampai tengah malam.  Saya bekerja pada saat weekend.  Saya hampir selalu tidak bisa menghadiri acara sekolah anak saya.  Selama 8 tahun saya bekerja di firma ini, saya hanya sempat makan siang di hari kerja dengan istri saya, 2 kali”.

Pada 2004, dalam usia 54 tahun, O Kelly, sang CEO tersebut didiagnosis menderita tumor otak.  “Bagaimana kalau saya tidak bekerja sekeras ini?  Apakah dengan cara kerja saya ini, saya menjadi lebih produktif dan kreatif?  Tampaknya tidak”  Kita bisa mengetahui pengakuannya tersebut karena ia menuliskannya di bukunya, ‘Chasing Daylight’.  (Kisah ini diambil dari buku Tony Schwartz, Be Exellent at Anything, halaman 27).

Liburan sering dilihat sebagai kelemahan, lembur dan kerja keras dilihat sebagai keunggulan, bahkan pelakunya tampil hampir seperti super hero bagi perusahaan.  Dari sebuah penelitian terhadap 12.000 pria ditemukan bahwa mereka yang jarang liburan mempunyai kemungkinan 50 persen lebih tinggi untuk meninggal karena serangan jantung dan 20 persen lebih besar kemungkinan meninggal dalam 9 tahun penelitian tersebut (Be Exellent at Anything, hal 76).

Mengambil jeda (intermittent) tidak hanya dilihat dalam konteks harian, tetapi juga dalam konteks mingguan, tahunan atau bahkan dalam sepanjang karir kita.

G. Suardhika

Trainer dari training Modern Time Management Jakarta