Pentingnya Intermittent

Blogs

Edisi 95, Selasa, 26 Juli 2016

Apa yang dilakukan seseorang ketika ia merasa lelah dalam bekerja?  Ketika kita berada di kantor, alternatifnya tidak banyak.  Pada umumnya kita tidak dapat terlihat bengong di kantor, nggak enak dengan teman yang lain, takut kalau Bos tahu-tahu lewat.  Apalagi kalau kita memilh untuk tidur sejenak.  Bagaimana caranya?  Dimana?

Jadi kebanyakan memilih memaksakan diri, atau cemilan atau, bagi kebanyakan pria, ngopi.  Lingkungan kantor sering diasosiasikan dengan kerja lagi, kerja terus dan nambah kerja.  Sering diasosiasikan dengan lembur dan lembur.  Bahkan bisa jadi di sebagian kantor seolah seperti kerja rodi yang terus-menerus.

Istirahat atau terlihat capai, atau terlihat bengong, atau mengantuk, sering diasosiakan sebagai tidak cukup tangguh, bahkan bisa jadi tidak profesional.  Hari ini lembur sampai tengah malam, besok harus tetap datang on time.  Bahkan kalau perlu lebih awal, itu menunjukan karyawan yang loyal.

Jadi ketika ide ini datang, bisa jadi terasa aneh: mengatur pola istirahat yang baik adalah hal yang meningkatkan produktivitas kita.  Untuk bisa meningkatkan produktivitas kita disarankan untuk mengambil break setiap 90 menit kerja.  Hah?  Really?  Namun, itulah yang disimpulkan oleh Loehr dan Schwartz.  Dalam kedua bukunya: The Power of Full Engagement ataupun Be Exellent at Anything.

Salah satu konsep penting dalam kedua buku tersebut adalah intermittent, aktivitas yang berjeda antara kerja dan istirahat.  Dalam buku The Power of Full Engagement ini disebut sebagai the pulse of life (halaman 30), layaknya detak jantung, gerakan nafas kita, ataupun hari yang berganti, musim yang berubah, maka kehidupan memerlukan intermittent demi keberlangsungannya.

Anders Ericsson yang penelitiannya mengenai expertise dipopulerkan oleh Gladwell lewat konsep 10.000 jamnya (Gladwell dalam bukunya Outliers) menemukan bahwa yang membedakan pemain biola yang ahli dengan yang rata-rata adalah mereka yang ahli berlatih lebih keras perbandingannya adalah 3,5 jam per hari dengan 1,4 jam per hari.  Namun selain itu, nah ini dia, kelompok yang ahli juga beristirahat lebih lama.  Mereka tidur 8,6 jam dibanding 7,8 jam (Be Exellent at Anything, halaman 6).  Demikianlah, work hard dan rest hard.

Lebih jauh lagi, Jim Loehr, sang sport psychologist menemukan bahwa great athlete (penelitiannya dilakukan terutama dalam cabang olah raga tenis) dan good athlete adalah bagaimana mereka bisa mengalihkan perhatian pada saat 20 detik jeda antar point.  Begitu efektifnya mereka menggunakan 20 detik jeda tersebut, sampai detak jantungnya pun ikut berkurang (The Power of Full Engagement, hal. 32).

Dengan demikian salah satu kemampuan yang penting untuk mendapatkan dan me-maintain enerji adalah mengatur pola kerja-istirahat kita sebaik mungkin sesuai dengan kebutuhan fisik kita masing-masing.  Mem-forsir dengan kopi dan makanan kecil yang banyak mengundang gula di siang hari untuk bisa bekerja lebih panjang sehingga kemudian sulit tidur, sampai dengan memerlukan obat tidur di malam hari, hanya akan merusak tubuh kita karena bertentangan dengan pulse of life dari tubuh kita.

G. Suardhika

Trainer dari training Modern Time Management Jakarta