POW Factors 1: Purpose

Blogs

Edisi 15, Selasa, 20 Oktober 2015

Memproduksi tujuan adalah tahap pertama dari produktivitas diri yang paling penting dalam proses produktivitas diri.  Bayangkan kalau orang sudah mengayuh perahunya dengan keras, siang dan malam, berhari-hari, lalu ketika sampai, ia baru sadar bukan pulau itu yang ia tuju, bertapa sia-sianya seluruh proses itu.

Kehidupan bisa berjalan dengan nikmat seperti nikmatnya terbawa arus.  Tapi tanpa penetapan tujuan, kita tidak akan pernah tahu apakah ini saat yang tepat untuk menikmati gelombang arus yang ada, atau saatnya untuk melawan arus supaya tidak semakin jauh dari tujuan kita.

Merancang tujuan adalah suatu hal yang menyenangkan karena hal tersebut seperti menyiapkan skenario hidup bagi diri kita.  Lalu kenapa sebagian kita tidak melakukannya?  Bisa karena terlalu sibuk atau tidak tahu caranya atau tidak berani menghadapi kegagalan mencapai tujuan hidup.

Bila tujuan hidup dimaknai sebagai arah bukan target, maka sebetulnya tidak ada istilah gagal.  Orang itu gagal mencapai target, bukan gagal mencapai tujuan hidup.  Seorang yang mempunyai tujuan hidup untuk ‘memberikan manfaat bagi sesama’, akan mempunyai banyak cara untuk memenuhinya, tetapi kalau dia mendefinisikan itu dengan target: ‘saya harus menjadi Gubernur atau Anggota DPR atau Ketua Partai, atau bahkan menjadi Presiden’, maka pada saat itulah ada kemungkinan gagal yang akan menimbulkan kekhawatiran.

Purpose atau tujuan hidup dalam produktivitas diri, dipilah menjadi 3 hal: spiritual: apa yang ingin kita capai paska kehidupan dunia ini.  Psikis: bagaimana kita mendefinisikan sebuah kehidupan yang bahagia di masa depan dan saat ini.  Karya: apa prestasi terbaik yang ingin saya capai dalam kerja saya.  Mengintegrasi pencapaian ketiga hal tersebut adalah sebuah tantangan tersendiri

Memahami purpose dicapai melalui proses refleksi/introspeksi diri sehingga kita mendapatkan pengenalan diri yang baik, kejelasan arah yang ingin dicapai, enerji hidup (orang dengan tujuan hidup yang jelas akan menjalani kehidupannya dengan lebih bersemangat) dan kebermaknaan.  Kebermaknaan merupakan salah satu kebutuhan utama manusia.

Sebagian orang mencari kebermaknaan dengan menampilkan diri, melalui materi atau sosial.  Kebermaknaan diri yang paling esensial datang dari sebuah kehidupan yang jelas tujuannya, seperti kata Socrates, ‘the uneximined life is not worth living’.  Pemahaman purpose yang baik saya rasa salah satu hal esensial untuk menjalani hidup bermakna.

Tidak ada gunanya mempelajari sesuatu hal baru, atau mengembangkan diri, bila kita tidak memahami untuk apa kita mempelajari hal tersebut.  Tidak memahami keterkaitannya dengan purpose kita.

Belum lama ini seorang kolega menceritakan mengenai temannya yang sangat cerdas sehingga ketika akan mendaftar kuliah dia mencari ilmu yang menurutnya paling sulit.  Dia berhasil masuk di fakultas di perguruan tinggi terbaik tersebut, tetapi kemudian ia tidak menempuh karir dalam bidang tersebut.

Kasus menarik lainnya diceritakan Malcolm Gladwell berikut ini.  Anda tahu siapa orang terpintar di Amerika?  Paling tidak bila dilihat dari IQ nya, media menyatakan Chris Langan-lah, orangnya.  Ketika Einstein diperkirakan mempunyai IQ 150, maka Langan mempunyai IQ di 195.  Namun, Anda tidak mendengar mengenai apa yang berhasil ia capai, bukan?  Saya duga, kemampuan tersebut tidak disertai kemampuan untuk menemukan purpose (Bab 3 dan 4 dari buku Outlier, dari Gladwell).

Tanpa menjalankan tahap ini dengan baik, berarti kita tidak menjalankan peran Pemilik dengan baik, seperti yang dijabarkan di edisi 13.  Kita hanya menjalankan peran Pengguna.  Pengguna yang menggunakan diri kita sesuai keinginan kita dengan tidak terlalu perduli akan siapa diri kita, siapa Penciptanya dan untuk apa kita hidup.

G. Suardhika

Trainer dari Training Modern Time Management Jakarta