POW Factors 3: Work Style

Blogs

Edisi 19, Selasa, 3 November 2015

Kita seringkali lebih cepat membayangkan kehidupan apa yang kita inginkan, dalam konteks pola konsumsinya.  Rumah seperti apa, kendaraan seperti apa, kenyamanan seperti apa, dan seterusnya.

Padahal pola konsumsi yang kita inginkan, bisa jadi sulit kita capai bila produksi kita tidak optimal.  Bagi orang yang sudah merasakan kenikmatan berkarya, akan memahami bahwa kenikmatan berkarya (berproduksi) jauh lebih tinggi intensitasnya dari kenikmatan konsumsi.  Kenikmatan berkarya membutuhkan work style yang pas.

Seberapa penting pun sebuah aktivitas, bila karena pressure yang ada, kita tidak berhasil melakukannya dalam work style yang kita inginkan, maka akan sulit bagi kita menikmatinya.  Bayangkan seorang pelukis yang mempunyai pacing seminggu satu lukisan, tiba-tiba karena banyaknya pesanan ia harus menyelesaikan 3 lukisan dalam 1 minggu.

Dalam MPD, workstyle dibedakan dari lifestyle.  Bila lifestyle terkait dengan pola konsumsi, maka workstyle terkait dengan pola kerja seseorang.  Diantaranya workstyle terkait dengan pacing kerja yang kita inginkan, fleksibilitas, area kerja dan bidang kerja.

Pacing kerja adalah kecepatan kerja seseorang.  Setiap orang sebetulnya punya pacing sendiri.  Ada orang yang memang menyukai bekerja cepat, multytasking.  Biasanya ini terkait dengan pekerjaan operasional, fisik dan lapangan.  Pada titik ekstrim lainnya ada orang yang menyukai pekerjaan konseptual, deep thinking, kreatif, seni, analysis, yang memerlukan fokus dan kedalaman proses.  Kedua jenis pekerjaan yang berbeda itu mempunyai jenis pacing yang berbeda.

Fleksibilitas.  Ada orang yang tidak sulit mengikuti disiplin waktu dalam bekerja, ada yang membutuhkan fleksibilitas dan membutuhkan variasi pekerjaan yang memadai.

Area dan bidang kerja.  Seberapa sesuai pekerjaannya dengan minat dan kemampuannya.

Wokstyle adalah sudut pandang objek.  Diri kita sebagai objek dari produktivitas diri mempunyai hak untuk berproses sesuai dengan karakter kita dalam bekerja.  Mengabaikan itu, akan menyebabkan kita overuse, overextend dan ‘tua sebelum waktunya’.

Karenanya MPD menganggap penting keseimbangan antara output (purpose) dan proses (workstyle).  Sehingga kepentingan jangka panjang bisa dicapai tanpa mengorbankan kepentingan jangka pendek.  Ataupun sebaliknya.

Gaya hidup hedonisme muncul karena over dominan pada kepentingan Objek.  Sementara itu, para pekerja keras yang overwork dan manipulated muncul karena dominasi kepentingan Pengguna.  Dominasi pada kepentingan Pemilik akan menghasilkan para pemimpi saja.  Karenanya diperlukan integrasi antara 3 kepentingan tersebut.

Bagi sebagian kita yang masih menjadi karyawan, yang perlu kita pahami adalah perusahaan umumnya menggunakan perspektif Pengguna.  Kita-lah yang perlu mengintegrasikan dengan kepentingan Objek dan Pemilik untuk mendapatkan produktivitas yang optimal.

G. Suardhika

Trainer dari Training Modern Time Management Jakarta