Produktivitas dan Kinerja (2)

Blogs

Edisi 145, Selasa 18 April 2017

Bagaimana agar seorang atlit bisa berprestasi optimal?  Seorang Pemusik?  Pecatur?  Angela Duckworth melakukan penelitan pada mereka yang berhasil melewati tantangan yang berat dan menemukan grit adalah pembeda antara yang berhasil dan tidak.

Bila kinerja concern pada pencapaian pada satu bidang tertentu.  Produktivitas diri concern pada pencapaian optimal dalam kehidupan secara berkelanjutan.Bagaimana memaknai grit dalam produktivitas?  Pada seorang atlit berpretasi, itu bisa berarti pengembangan kebiasaan diri yang produktif yang fokus pada pencapaian prestasinya.

Ini meliputi rutinitas latihan fisik ataupun psikis, coaching, perjalanan untuk mengikuti berbagai turnamen, diet makan yang ketat, monitoring kondisi fisik, dan seterusnya.

Angela Duckworth dan Anders Erickson rasanya sepakat ketika mengatakan bahwa grit dan deliberate practice (term yang digunakan Anders untuk latihan yang diperlukan untuk mencapai prestasi optimal) lebih mudah dievauluasi pada bidang profesi yang kompetitif, dimana pemenangnya jelas dan apa yang perlu dilakukan untuk bisa mencapai peak performance juga cukup jelas.

Sayangnya lebih banyak profesi yang tidak mempunyai karakteristik tersebut.  Disinilah rumus 10.000 hours (istilah yang dipopulerkan oleh Malcom Gladwell  untuk menjelaskan waktu yang dibutuhkan untuk menjadi seorang ahli) lebih sulit untuk ditemukan.  Karir seseorang dalam organisasi, misalnya, juga banyak ditentukan oleh 2 faktor ‘n’ eskternal berikut ini: (n)asib dan (n)etwork.

Namun, fokus kita tentunya tetap pada pembentukan kebiasaan produktif yang membawa kita pada optimizing career dan life.  Membawa kita pada tujuan hidup yang kita inginkan.  Inilah yang disebut produktivitas diri.  Kalau mau, bisa juga disebut pencapaian kinerja hidup yang optimal.

G. Suardhika

Trainer dari training Modern Time Management Jakarta