Produktivitas Diri adalah Memilih Moda Hidup

Comment

Blogs

Edisi 211, Selasa 8 Mei 2018

Ada beberapa cara (moda) untuk menjalani setiap hari dalam kehidupan.  Salah satunya, tentunya adalah mendekatinya sebagai sebuah peluang untuk berprestasi, untuk menghasilkan karya terbaik.  Ketika kita mendekati hari dengan moda kinerja, kita akan mencari cara untuk mencapai produktivitas diri secara optimal pada setiap detiknya. Ini berarti menggunakan pertimbangan rasional kita seefektif mungkin.

Membuat perencanaan, memahami prioritas dan memilih aktivitas yang paling impactfull, yang memberikan dampak paling besar bagi hidup kita.  Namun, terlalu dominan menggunakan pendekatan tersebut dalam hidup kita, justru bisa menjauhkan kita dari keterlibatan penuh dari setiap aktivitas.  Padahal keterlibatan penuh ini yang akan membawa kita pada penggunaan seluruh sumber daya untuk mencapai hasil optimal.  Disinilah kita memahami, bahwa produktivitas berarti kemampuan mengubah moda dengan tepat, antara moda kinerja dan mengalami.

Disinilah kenapa time limit dan target, ketika menjadi sebuah obsesi akan menghambat produktivitas optimal.  Orang dengan obsesi terhadap target akan melihat hidupnya dari kaca mata efisiensi semata.  Selalu mencari cara untuk melakukan sesuatu dengan lebih cepat dan lebih singkat.  Bergegas untuk pindah dari satu hal ke hal lainnya.  Dan akhirnya kehilangan kemampuan untuk meningkatkan efektivitas.

Bersegera sampai di rumah, tetapi ketika di rumah memikirkan pekerjaan yang ada di kantor.  Ketika sedang lembur di kantor menyesali kenapa sabtu kemarin tidak menyempatkan diri untuk menonton anak mengikuti pertandingan bola.

Dalam produktivitas diri, moda kinerja justru digunakan untuk kita bisa sampai pada moda mengalami sebanyak mungkin dan senyaman mungkin.  Produktivitas diri adalah kemampuan untuk mengelola hari kita sedemikian rupa sehingga kita sampai pada penghayatan akan pentingnya waktu,  sehingga selalu ada pilihan aktivitas produktif yang kita siapkan tetapi pada saat yang bersamaan juga menjaga diri untuk menikmati apa yang ada di hadapan kita.

Berkonsentrasi penuh dan berusaha kerasa untuk menjalani setiap aktivitas dengan optimal  membutuhkan keberanian untuk masuk ke dalam ketidakpastian.  Keberanian yang menggabungkan antara usaha keras dan kepasrahan.  Serta keberanian untuk melakukan kesalahan yang masuk akal dan menerima kesalahan sebagai bagian dari kemanusiaan kita.

Dengan demikian kita bisa mendekati produktivitas diri, sebagai sebuah struktur dan mekanisme untuk menyiapkan diri dan membawa kita menikmati satu pengalaman ke pengalaman lain.  Ketika kita sudah memutuskan untuk melakukan suatu hal maka kita perlu memasang moda untuk terlibat dengan optimal dengan aktivitas tersebut.  Kita sudah harus switch dari mencari aktivitas yang optimal ke menjalankan dan menikmati aktivitas yang ada.

Masuk dalam moment pengalaman akan membawa kita untuk berinteraksi dengan optimal dengan moment tersebut sehingga akhirnya akses terhadap berbagai sumber daya di dalam diri kita, seperti kecerdasan, kreativitas, kesabaran, fleksibilitas, akan lebih mudah kita dapat.  Seperti kisah tentang orang yang berhasil berjalan di atas seutas tali.  Ketika ia obses pada pencapaian tujuan, konsentrasinya terhadap setiap langkah akan terganggu.  Justru ketika ia larut dalam setiap moment, dalam flow, maka ia bisa sampai di seberang.

Jadi produktivitas diri, di ujungnya adalah mengalami.  Segala konsep dan struktur yang kita bahas selama ini hanya untuk membuat kita memilih pengalaman yang tepat pada satu moment tertentu.  Setelah itu menikmati.  No wonder orang produktif lebih sering dapat menikmati harinya.  Bukan dipacu untuk berlari di rat race produktivitas.  Bukan fokus di do productive, tetapi be productive.

Akhirnya suatu kisah dari Peter Bregman (di buku Four Seconds) yang sudah beberapa kali saya bagi di blog ini akan saya pakai sebagai penutup karena kisah tersebut mengingatkan saya tentang pentingnya moda ini.  Bregman mengisahkan bertapa ia baru bisa menikmati moment pernikahannya ketika ia mengubah moda-nya dari memastikan semua berjalan dengan sempurna (moda performance) ke menikmati prosesi pernikahan sebagai sebuah pengalaman yang sakral.

Berusaha menjadi produktif bukan berarti menjauhkan anda dari menikmati pengalaman ia hanya berarti memilih pengalaman yang paling penting dan bermakna buat diri Anda.

G. Suardhika

Trainer dari training Modern Time Management Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *