Rencanakan Minum Anda

Blogs

Edisi 99, Selasa 9 Agustus 2016

Ilmuwan sepakat bahwa tubuh kita memerlukan sekitar 2 liter air per hari.  Frekuensi minumnya perlu diatur sehingga dapat terserap dengan baik.  Saya sendiri mengikuti pendapat yang mengatakan baiknya minum air tidak berdekatan dengan waktu makan kita sehingga enzim pencernaan kita bisa bekerja dengan optimal.

Persoalan dalam minum memang bukan di pengetahuan (kita umumnya sudah paham pentingnya air putih), tetapi di pembentukan kebiasaannya.  Dua liter air putih itu cukup banyak, apalagi kalau kita terbiasa untuk minum yang manis.  Karena minuman non air putih tidak akan menggantikan kebutuhan air putih kita.  Kalau kita terbiasa minum ketika haus, maka hampir pasti jumlah tersebut tidak akan terpenuhi.

Chris Bailey dalam The Producitivity Project juga menyarankan untuk merencanakan minum kopi kita.  Karena enerji kita biasanya akan naik beberapa saat setelah minum kopi dan akan crash setelahnya.  Tanpa timing yang baik, bisa jadi siang hari ketika kita tengah meeting, kita mengalami crash tersebut.  Sekali lagi, setiap orang mempunyai pola respond yang berbeda-beda yang perlu dipahami masing-masing.

Masalah lain dengan kopi adalah adaptasi yang ditimbulkan yang menyebabkan kalau kita ingin mendapatkan efek yang diingikan maka porsinya akan selalu perlu ditingkatkan.  Ada juga yang mengatakan bahwa yang lebih bermasalah itu gula nya daripada kopi nya sendiri.  Karena kopi dalam level tertentu adalah baik.  Gula, apalagi kopi yang dalam sachet lebih tidak baik bagi tubuh kita dalam jangka panjang.

Chris mengatakan bahwa minuman lain yang mempunyai caffeine tapi dalam proses yang lebih baik adalah green tea dan matcha (halaman 231).

Kekurangan air putih yang memadai bisa jadi salah satu penghambat dalam pengelolaan enerji kita.

G. Suardhika

Trainer dari training Modern Time Management Jakarta