Satu faktor yang membedakan Pekerja Baik dan Buruk

Blogs

Edisi 65, Selasa, 12 April 2016

Bila ada satu faktor yang membedakan pekerja baik dan buruk, maka bisa jadi hal tersebut adalah ini: prioritizing.  Kemampuan memilah dan melakukan hal penting.  Terkesan sederhana, tapi cukup sulit karena beberapa hal berikut ini.

Pertama adalah kejernihan pemahaman kita mengenai apa itu penting dan tidak penting.  Kita telah membahas prinsipnya di tulisan sebelumnya, tetapi secara operasional pemahaman itu akan perlu diuji dari waktu ke waktu untuk akhirnya kita lebih mampu memilahnya.

Yang kedua adalah sulitnya untuk konsisten dalam memilih hal yang penting karena adanya tirani kemendesakan.  Ketika seseorang mengalami kemendesakan, maka ia akan beralih ke moda survival, yaitu mencari cara untuk menghindari efek buruk dari kegagalan memenuhi dead line.  Pada saat itu overload mengakibatkan overwhelm: situasi dinamana seseorang sulit untuk melakukan prioritizing karena rasa khawatirnya sudah berhasil mendominasi dirinya.  Sehingga ia sulit mendapatkan kejernihan dalam menemukan dan membela hal-hal yang penting.

Hal lain yang membuat sulit untuk konsisten pada hal yang penting adalah karena untuk menemukan hal penting kita perlu selalu berada pada level awareness yang memungkinkan kita align dengan apa yang ingin kita capai dalam hidup dan dalam pekerjaan kita.  Sementara itu memilih apa yang ingin kita lakukan saat itu jauh lebih jelas dan mudah.

Faktor ketiga adalah kecenderungan kita untuk fokus pada eksekusi ketika kita menghadapi pressure tersebut.  Kita fokus pada kepentingan jangka pendek, sehingga faktor yang mempunyai efek jangka panjang, seperti peningkatan kapasitas dan alignment dalam aspek individu terabaikan.  Demikian juga dalam pembenahan sistem dan relasi, sehingga bisa didapat produktivitas organisasi yang diinginkan.

Demikianlah.  Walaupun prioritizing adalah sederhana secara pemahaman.  Tetapi eksekusinya jauh lebih complicated.  Ibarat seseorang yang ingin berlayar dan bisa melihat pulau yang ingin dituju di ujung ufuk sana.  Tetapi ia perlu menghadapi hantaman angin, gelombang, kabut dan arus yang kuat berulang kali dalam perjalanan ke sana.  Sehingga akhirnya menyerah mencari daratan yang lebih mudah dicapai sesuai dengan kemana gelombang membawanya.

Focus & consistency is the name of the game.

G. Suardhika

Trainer dari Training Modern Time Management Jakarta